Ia berpikir, pada debat pertama Gubernur, yang membuka peluang bagaimana NTT dengan pendekatan yang baik, hanya Melki-Johni yang berbicara tentang batas Rote tersebut. Dan di Pilkada Rote Ndao, hanya Paket Ita Esa yang berbicara tentang keunggulan batas tersebut.

“Ini juga punya kesinambungan dukungan antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten,” pungkas Melki.

Selain itu, perihal pendapatan asli daerah (PAD) yang kecil, diutarakan Melki, dikarenakan masyarakatnya tidak didorong untuk mengolah hasil buminya.

“Melki-Johni mempunyai sebuah desain ke depan kabupaten kota di NTT harus masuk pada industri pengelolaan hasil bumi, baik di sektor pertanian, kelautan perikanan, peternakan, perkebunan dan pariwisata,” cetus Melki.

“Jangan lagi kita jual hasil mentah, tetapi kita olah dulu jadi barang jadi baru kita pasarkan menjadi hasil bernilai tinggi. Dengan begitu, hasil bumi di Rote ini punya nilai tambahnya,” lanjutnya.

Ia menerangkan, jikalau masyarakat menjual bahan mentah kepada orang lain, pendapatan dari masyarakat petani atau nelayan itu hasilnya biasa-biasa saja.