Ia menambahkan, sebelum penerapan OBE, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap seluruh dosen di UPG 1945 NTT.

“Dosen ini layak tidak? Kalau mahasiswanya bilang dosennya tidak bagus, maka kita ganti dosen yang berkualitas sesuai kompetensi dan keinginan mahasiswa,” tegas Dr. Semuel Haning.

“Contohnya, di PJKR ada Kempo. Yang ngajar bukan dosen yang tidak tahu Kempo. Dosen menilai dan lain-lain, tapi pelatihnya orang lain. Sehingga saat lulus, mahasiswa sudah punya kualitas dan prestasi,” sambungnya.

Rektor UPG 1945 NTT David R. E. Selan menyampaikan, pelatihan Outcome Based Education (OBE) dan penyusunan Kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) digelar dalam rangka mendukung proses akreditasi yang lebih mudah.

“Kegiatan hari ini bukan saja rutinitas, melainkan sebuah tonggak sejarah dalam usaha untuk menjawab tantangan zaman dan kebutuhan dunia kerja,” tuturnya.

Ia berharap kegiatan tersebut membawa dampak positif bagi pengembangan lembaga UPG 1945 NTT.

Wakil Rektor I Bidang Akademik Uly J. Riwu Kaho mengatakan, revisi kurikulum tersebut sebagai bentuk kesiapan perguruan tinggi untuk menyesuaikan diri dengan standar nasional pendidikan tinggi yang didasarkan pada perkembangan revolusi 4.0 dan memasuki socity 5.0.