Selain itu, acara ini juga menyediakan platform bagi komunitas lokal, untuk berkolaborasi dalam merancang solusi-solusi konkret untuk mengurangi dampak krisis iklim.
Arti Indallah, Country Engagement Manager Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Hivos) Indonesia menambahkan, pihaknya membumikan narasi perubahan iklim memang bukan hal yang mudah, perlu berbagai cara salah satunya pendekatan melalui seni.
“Melalui PRF, kami mencoba berbagai pendekatan melalui media seni, budaya, musik, untuk mendekatkan isu perubahan iklim dan keadilan sosial ke masyarakat, mengamplifikasi solusi iklim yang sesuai dengan konteks lokal, dan menggalang dukungan berbagai pihak untuk solusi iklim yang berkeadilan,” ungkapnya.
Sebagai penutup kegiatan ini, masyarakat diajak untuk melakukan aksi bersama menanam dan merawat mangrove di Desa Tanah Merah, Kabupaten Kupang pada 6 November 2023.
Paska puncak acara Pesta Raya Flobamoratas, semangat kesadaran lingkungan masih terus dikobarkan di Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama dalam hal penanaman dan perawatan mangrove. Kegiatan penanaman dan perawatan mangrove menjadi salah satu inisiatif utama yang dipromosikan setelah kegiatan PRF 2023. Mangrove memainkan peran kunci dalam menjaga ekosistem pesisir dan melindungi pantai dari abrasi serta dampak kenaikan permukaan air laut.
Kegiatan penanaman mangrove yang dinamai dengan “Baku Dukung untuk Bumi” melibatkan partisipasi aktif masyarakat, termasuk generasi muda, yang sangat termotivasi oleh semangat “Semangat Tanpa Batas” yang diusung selama Pesta Raya Flobamoratas 2023.
Mereka juga melaksanakan pembersihan sampah di sekitar area mangrove, dan upaya perlindungan terhadap ekosistem mangrove dari aktivitas yang merusak. (*/kn)







Tinggalkan Balasan