“Saya mengapresiasi OJK NTT yang telah menyelenggarakan Bulan Inklusi Keuangan. Mari kita sama-sama bersinergi untuk mencapai NTT yang maju dan sejahtera,” pungkasnya.
Kepala OJK NTT Japarmen Manalu dalam sambutannya menyampaikan bahwa, Bulan Inklusi Keuangan (BIK) sudah diinisiasi sejak tahun 2019.
Kegiatan ini dibuat karena ada kesenjangan atau ketimpangan terhadap pemanfaatan industri jasa keuangan antara kelompok atas, menengah, dan bawah.
Untuk mengatasi masalah ini, maka OJK sudah berkolaborasi atau bekerja sama dengan semua industri jasa keuangan di Nusa Tenggara Timur, untuk meningkatkan inklusi keuangan.
“Tahun 2019 survei literasi dan inklusi keuangan, NTT berada di peringkat 33 dari 34 provinsi. Kemudian survei literasi dan inklusi keuangan di tahun 2022, kita bersyukur kita meningkat dan masuk dalam 10 besar,” ujar Japarmen Manalu.
Ia menyebut, keberhasilan ini bukan kerja OJK sana tetapi semua pihak baik di industri jasa keuangan, perbankan, IKMB, dan pasar modal.
“Kami sangat berharap, kerja kolaboratif yang sudah terjalin selama ini jangan berhenti di sini, karena tantangan kita untuk NTT masih sangat besar. Walaupun sudah masuk 10 besar, tapi pertumbuhan ekonomi dan industri keuangan masih jauh di bawah nasional,” ungkapnya.





Tinggalkan Balasan