“Walaupun anggaran masih nihil, kami tetap optimis bahwa kegiatan Pra PON II ini harus bisa berjalan,” ungkap David Selan.

Untuk kelancaran Pra PON II, panitia sudah membagi 6 hingga 7 seksi yang diisi personil dari Pertina, kampus, dan pihak luar yang berpengalaman.

David Selan mengaku prihatin, karena peemerintah Provinsi NTT dan KONI telah menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah Pra PON II Tinju di NTT.

Namun baik KONI maupun pemerintah Provinsi NTT tidak menganggarkan dana dalam APBD untuk pelaksanaan Pra PON II tersebut.

Dia menyebut, pada periode-periode sebelumnya, biasanya anggaran untuk satu event mencapai Rp600 hingga Rp700 juta. Namun kali ini NTT yang menjadi tuan rumah, justru anggaran tidak ada.

“Jadi kita bisa gugat pemerintah. Tetapi saya tidak mau perpanjang masalah ini. Kami hanya minta itikad baik dari pemerintah untuk bisa membantu kami,” tegasnya.

David Selan berharap pemerintah dapat membantu dan mempertimbangkan pemberian dana hibah untuk menjamin kelancaran Pra Pon II 2023.