Daerah  

Dirjen KASDAE Ajak Masyarakat NTT Cegah Penyu dari Ancaman Kepunahan

Pelepasan Tukik di Kupang. (Foto: Istimewa)

Kupang, KN – DIRJEN Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Satyawan Pudyatmoko bersama Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam  (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) Arief Mahmud melepas 555 ekor tukik ke habitatnya.

Pelepasan tukik dilakukan bersama ratusan warga, anggota polisi dan TNI Angkatan Laut berlangsung Pantai Kelapa Tinggi, Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Kamis (12/10) petang.

Pantai Kelapa Tinggi terletak di Teluk Kupang, selama ini menjadi lokasi strategis pendaratan penyu terutama penyu lekang, penyu sisik dan penyu belimbing.

Satyawan mengatakan dari tujuh jenis penyu di dunia, enam jenis di antaranya ada di Indonesia termasuk di NTT. “Di satu sisi kita harus bangga, tetapi di sisi lain juga menuntut tanggungjawab agar yang enam jenis ini tetap ada di NTT, jangan sampai ada satu pun yang hilang,” katanya di saat pelepasan tukik tersebut.

Untuk itu, peran dari pemerintah desa juga sangat harapkan untuk mencegah penyu dari ancaman kepunahan. Saat ini penyu telah masuk dalam Appendix I yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersial dilarang.

Selain itu, Peraturan Menteri KLHK Nomor 106 Tahun 2018 juga menyebutkan penyu adalah satwa yang dilindungi. “Prinsipnya konservasi adalah adalah kerja kolaborasi yang harus didukung oleh semua pihak,” ujarnya.

Dia juga minta lokasi pendaratan penyu tersebut dijadikan sebagai lokasi wisata edukasi terutama bagi generasi muda dan siswa sekolah. Kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari upaya untuk melestarikan penyu. “BBKSDA bisa memprogramkan pendidikan bagi anak-anak sekolah, dan berkembang menjadi salah satu satu destinasi wisata edukasi, bukan mass tourism,” ujarnya.

BACA JUGA:  Penerimaan Anggota Polri di Polda NTT Bebas Pungutan, Polisi yang Jadi Calo Dipecat

Pasalnya, dulu masyarakat Desa Mata Air yang bekerja sebagai nelayan dan petani lahan kering, memburu dan mengonsumsi daging penyu. Namun mulai 2020, setelah BBKSDA NTT melakukan kegiatan konservasi di lokasi tersebut, masyarakat setempat ikut melakukan konservasi penyu.

Mereka juga melakukan patroli pendaratan penyu, penetasan dan pelepasliaran. Mereka memanfaatkan sisa dari bahan alam untuk membuat demplot sederhana. Selanjutnya, pada 2022 dibentuk kelompok konservasi penyu Sue Lain yang kemudian berganti nama  menjadi Kelompok Konservasi Penyu Cemara. Kelompok inilah yang kemudian aktif melakukan kegiatan konservasi penyu.

Kepala BBKSDA NTT Arif Mahmud mengatakan, telur yang dijumpai anggota kelompok ini, dibawa ke demplot penetasan. Setelah 40-60 hari, telur-telur tersebut menetas dan siap dilepasliarkan.

“Pada 2023 terdapat 82 sarang penyu yang diselamatkan dengan total 8.661 telur, yang menetas 4.451 tukik. Sebaanyak 2.812 tukik telah dilepasliarkan, 761 tukik mati dan masih ada 878 tukik di demplot,” ujarnya. Dari jumlah 878 tukik tersebut, sebanyak 555 ekor dilepasliarkan.

“Alhamdulillah, kami membantu untuk menyiapkan tempat ini,  memfasilitasi, membimbing masyarakat untuk bersama-sama melakukan upaya konservasi, dan  kami sudah beberapa kali melakukan pelepasliaran,” ujarnya. (*/kn)