Selain itu para siswa mengkalkulasikan keuntungan dari hasil penjualan, belajar tentang marketing, menjual, dan menawarkan usaha kepada orang tua mereka.

“Jadi di stand itu mereka jual atau pajangkan hasil kerajinan tangan yang mereka hasilkan seperti makanan dan lainnya,” ungkapnya.

Dia mengajak para siswa agar ke depan harus memiliki ide yang kreatif, untuk menghasilkan dan menjual sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri.

Sementara itu, Tony Pitoby selaku perwakilan orang tua siswa mengatakan, bazar yang digelar BMS Kupang merupakan bagian dari pembelajaran hidup siswa, bahwa apapun yang dilakukan setelah menyelesaikan sekolah adalah mencari kehidupan.

“Jadi istilahnya itu, mereka sudah siap menjalani kehidupan, karena tidak ada hidup yang enak,” jelasnya kepada wartawan.

Menurutnya, ketika mereka masih kecil, apapun yang diminta anak pasti dipenuhi oleh orang tua. Mulai dari alat tulis, biaya sekolah dan keperluan lainnya.

“Sehingga bazar ini sangat bagus. Karena mereka dilatih usaha sesuatu yang menghasilkan, baik itu masak, sulam, dan kerajinan tangan lainnya,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, apapun yang dilakukan siswa saat ini akan menjadi bekal yang sangat berharga ketika masuk di dunia kerja nanti.

“Kegiatan ini bagus sekali, sehingga kita harap ke depan bisa dipertahankan,” harapnya.

Mewakili orang tua siswa, dia menyampaikan terima kasih kepada para guru, karena sudah mendukung dan mensuport potensi para siswa melalui bazar yang diselenggarakan.

“Jadi para siswa harus ikuti terus kegiatan seperti ini, supaya bisa menjadi pegangan mereka. Karena hidup ini harus kerja dan berjuang. Tidak ada mental yang enak,” tandasnya. (*)