Yustina Kosat menyatakan, sebagian besar kehidupan berasal dari lingkungan. Berangkat dari pemahaman itu, maka merka terus merawat lingkungan secara baik.

Ia menjelaskan, selama ini perempuan belum mendapat perlakuan yang adil. Sehingga ia mendorong perempuan-perempuan di kawasan Mutis untuk mulai bertani untuk kebutuhan hidup mereka.

“Saya sebagai aktivis dan petani perempuan bergerak dan membentuk komunitas petani perempuan. Kita bertani secara ramah lingkungan dan mengembangkan tanaman bawang, wortel, kentang, dan sayur-sayuran hijau untuk mencukupi kebutuhan dalam rumah tangga,” ujarnya.

Selain itu, ia bersama komunitasnya menanam pohon di sekitar sumber mata air. Hal ini dilakukan setiap musim hujan, dengan harapan bisa menambah debit air.

“Kita juga melihat titik-titik longsor untuk melakukan penghijauan, tanpa menunggu pemerintah atau pihak lain. Kita merasa memiliki tempat kita, maka sudah jadi kewajiban kita untuk merawat,” ungkapnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT Ondy Ch. Siagian mengatakan, NTT memiliki kawasan Mutis Timau yang sangat luar biasa, dan menurut legenda merupakan sumber kehidupan masyarakat Timor.