Dikatakan Uskup Atambua, selama ini Keuskupan terus mendampingi paroki-paroki untuk membuat pilot project percontohan.

Pada tahun 2019, Keuskupan Atambua sudah mulai membuat pupuk padat yang organik, sehingga sampai hari ini hampir di semua sekolah milik Keuskupan sudah punya produk unggulan masing-masing.

“Saya berterima kasih kepada orang muda katolik yang terus berderap. Walaupun jumlahnya baru sedikit. Tapi ini awal yang baik. Karena di era reformasi IT ini, tidak gampang untuk mengajak orang muda bekerja seperti ini. Lebih banyak ilmu pencetnya, daripada ilmu kerjanya. Ini tantangan kita bersama, dan saya mengapresiasi” jelasnya.

Keuskupan Atambua, lanjutnya, akan selalu mengaspirasi dan menginspirasi, agar pastor-pastor selalu siap untuk bekerja sama dengan pemerintah, demi pemberdayaan masyarakat.

“Saya membuktikan, dengan keuangan yang tidak terlalu besar, kita bisa mencapai mandiri. Ini target kita. Di Keuskupan kita sudah mulai ke arah sana. Dengan keuangan yang terbatas, kita harus bisa mandiri. Karena Keuskupan punya misi kedaulatan pangan untuk masyarakat,” tandasnya.

Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho pada kesempatan yang sama menyempatkan diri memberikan motivasi kepada OMK Paroki Sasi.

Dikatakan Dirut Bank NTT, untuk memulai sebuah usaha, butuh niat dan komitmen untuk mencapai hasil yang terbaik. Di samping itu juga membutuhkan ketekunan dan konsistensi.

“Apa yang dilakukan oleh Pater Jose dan OMK Paroki Sasi merupakan sebuah bentuk kreativitas untuk membangun Taman Doa. Sehingga pembangunan Taman Doa tidak hanya menunggu bantuan dari orang,” jelas Dirut Bank NTT.

Usaha yang dirintis oleh Pater Jose, OFMConv dan OMK Paroki Sasi, merupakan langkah kebangkitan yang luar biasa, dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

“Kami menyambut kegiatan ini dan mendukung penuh. Bahkan berkomitmen untuk menghubungkan dengan networking atau ekosistem yang ada,” ungkapnya.

Dirut Bank NTT berharap semoga usaha tanaman holtikultura yang dirintis bisa bermanfaat bagi masyarakat di Kabupaten TTU, Belu dan Malaka terutama umat di Keuskupan Atambua dan seluruh NTT.