Menurutnya, item-item pembiayaan meliputi pembuatan visa, passport, dan biaya-biaya lainnya. Setelah selesai, para lulusan bisa bekerja sambil mencicil kembali pinjaman di Bank NTT.

“Pola yang kedua, orang tua yang mampu, silahkan, dia kasi Rp50 juta lebih dan selesai. Tapi ada yang tidak mampu, bisa melakukan peminjaman,” jelasnya.

Kadis Linus Lusi menyampaikan, saat ini sudah ada sejumlah mahasiswa datang ke Dinas P dan K Provinsi NTT, dan sudah menyatakan niatnya mengikuti program tersebut.

Total jumlah peminat hingga saat ini mencapai lebih dari 100 orang, namun mereka harus mengikuti kursus Bahasa Jerman dengan mendaftar melalui Global Katalyst.

“Sistem gajinya di sana sudah besar semua. Antara Rp16 Juta sampai Rp30 Juta, dan Rp40 Juta sampai Rp60 Juta kalau sudah pada tingkat tertentu,” ungkap Linus Lusi.

“Sehingga orang tua perlu mempercayakan dan merelakan anaknya untuk dia bisa hidup jauh ke depan dan memberikan dukungan. Ini yang kita harapkan dari orang tua,” pungkasnya.

Sementara Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho dalam laporannya saat kunjungan kerja Gubernur NTT di Kabupaten TTS belum lama ini menjelaskan, Yayasan Global Katalys diisi orang-orang Indonesia yang merupakan diaspora di Jerman.