Ia melanjutkan, saat ini kondisi NTT masih sangat kesulitan air bersih, terutama saat memasuki musim kemarau. NTT merupakan provinsi dengan musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan dengan provinsi lainnya serta memiliki tingkat curah hujan yang rendah.
Kondisi wilayah NTT yang merupakan bebatuan keras, ditambah pengaruh sosial budaya dan masalah manajemen PDAM yang belum tuntas, juga menjadi beberapa faktor sulitnya ketersediaan air bersih di NTT.
“Selain itu, banyak masyarakat NTT yang masih berpenghasilan rendah, sehingga kesulitan dalam melakukan pengeboran air karena membutuhkan biaya yang besar, dengan rentang harga 50 hingga 100 juta, tergantung dari lokasi. Oleh karena itu, warga NTT harus membeli air bersih yang mengkocek uang sebesar 300-700 ribu per bulan. Bahkan, biaya untuk beli air bersih lebih mahal dari biaya makan di sana,” pungkasnya.
Untuk diketahui, lewat Program “Air Bersih untuk NTT” pihaknya akan melakukan pengeboran air di lima titik, dengan lokasi sebagai berikut: Kabupaten TTS di Desa Tanadjawa Dusun 3 kampung Prema Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua, Desa Hallapadji Dusun 4 Kampung Raya Bawa Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, dan di Jl. Frans Lebu Raya, Kelurahan TDM.





Tinggalkan Balasan