“Kami kaget juga karena terima penghargaan. Kami dapat informasi bahwa penghargaan ini berkat kerjasama Unicef dengan Pemerintah Kota Kupang dan kita menjadi satu-satunya Gereja yang memberi perhatian terhadap stunting,” tegasnya.
Pdt. Samuel menambahkan, penghargaan ini makin membuat Gereja untuk harus bekerja lebih keras, karena penghargaan ini pengakuan dunia.
“Tapi Tuhan melihat, jangan-jangan kita ini hanya hanya sekedar jadi program dan sensasi saja. Jadi dengan penghargaan ini memicu kami untuk menunjukkan perhatian Gereja lebih besar. Kami apresiasi semua penghargaan, tapi justru dari kami, penghargaan yang tertinggi itu dari Tuhan,” sebutnya.
Sementara itu, Penjabat Wali Kota Kupang George Hadjoh menyampaikan, piagam penghargaan tersebut merupakan bentuk kehormatan kepada semua pihak yang memberikan jiwa dan hati untuk penanganan Stunting.
Ia mengajak semua pihak baik itu ASN, swasta dan perbankan untuk bekerja sama dan berkolaborasi, guna menangani Stunting di Kota Kupang.
“Pemerintah tidak bisa kerja sendiri. Pemerintah membutuhkan gereja, dan semua stakeholders yang ada di Kota Kupang untuk bergerak. Satu tahun saja Stunting bisa beres, apalagi kita memberikan diri kita secara total untuk kerja Stunting, pasti bisa selesai,” tegasnya.
Kepala Dinas Kesehatan, Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi NTT Ruth D. Laiskodat dalam sambutannya mengatakan, angka Stunting di Provinsi NTT selalu dievaluasi setiap tahun.
Pada Agustus 2022 angka Stunting di NTT berada di angka 17,7%. Artinya NTT bukan daerah yang paling banyak memiliki balita penderita Stunting dari 34 Provinsi di Indonesia.
Kemudian pada bulan Februari 2023, angka Stunting turun ke 15,7%, yang artinya ada penurunan sekitar 10.000 anak penderita Stunting.
“Belum menjadi kebanggaan, karena masih begitu banyak anak-anak kita yang Stunting,” ujar Ruth Laiskodat.
Ia mendorong semua pihak untuk terlibat aktif menekan angka Stunting, shingga pada tahun 2023 target 12% sesuai arahan Presiden Jokowi bisa tercapai. (*)







Tinggalkan Balasan