Ia mengatakan media penyebaran paham radikalisme dan terorisme yakni melalui pendekatan personal yang menyasar pada keluarga, teman, dan orang orang dekat, melalui forum diskusi seperti kelompok kelompok kajian, melalui media publikasi yaitu poster, selebaran maupun tabled dan juga melalui internet seperti Facebook, twitter dan aplikasi sosial media lainnya.
“Hal ini pernah dilakukan oleh ormas yang dibubarkan pemerintah sejak tahun 2017 yaitu Ormas Hizbut Tahrir. Untuk saat ini menjadi serangan paham radikalisme dan terorisme adalah pola pikir atau mindset berupa pertarungan ide, paham gagasan untuk mempengaruhi masarakat terkhususnya kaum milenial,” paparnya.
Untuk iti kata Dia, PMII Cabang kupang merasa bahwa ini merupakan problem besar yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Sehingga membutuhkan kolaborasi semua pihak yang cinta akan NKRI.
“Sehingga sebagai anak bangsa dan kaum muda yang cinta akan NKRI, Dan juga sebagai warga NTT terkhusunya Kota Kupang yang menjujung tinggi akan nilai toleransi maka kita membutuhkan upaya kolektif dalam mencegah penyebaran paham radikalisme agar tidak berkembang di provinsi NTT dan kota kupang terkhusus nya. Yakni dengan cara melakukan kegiatan menanamkan jiwa nasionalisme melalui keluarga, lingkungan tempat tinggal, sekolah dan lingkungan kerja,” jelasnya.
Ia berpesan kepada masyarakat NTT khususnya para pemuda Mari menjdi diri kita sebagai anak bangsa yang berpikiran positif, terbuka serta toleran.
“Kita harus waspada terhadap bentuk provokasi dan hasutan yang membenturkan agama satu dan agama lainnya. Junjung tinggi perdamaian serta masing masing kita harus menjalankan aktifitas keagamaan dengan semngat jiwa toleransi yang tinggi. Harapannya, keluarga besar PMII cabang kupang dapat mengambil peran besar dalam upaya pencegahan terhadap perkembangan paham radikalisme dan terorisme di NTT khususnya di Kota kupang yang di juluki kota kasih. Dengan demikian akan mempersempit ruang gerak dari kelompok kelompok radikalisme untuk memberikan paham radikalisme di tengah tengah masyarakat NTT,” ujarnya. (*/KN)







Tinggalkan Balasan