“Kita sudah melakukan langkah-langkah strategis untuk mendorong pembangunan infrastruktur di 4 Kabupaten. Kita dorong juga pamsimas dikreasikan kembali di daerah-daerah,” jelasnya.

Ia berharap dalam skema pembiayaan yang akan dibangun bisa menjawab permasalahan perubahan iklim di NTT.

“Kita mampu meramu bagaimana perubahan iklim mendorong masyarakat agar punya mata pencarian, dan mampu bekerja menanam tanaman holtikultura sesuai dengan skema-skema perhutanan,” tandasnya.

Sementara itu, Peneliti Senior World Agroforestry ICRAF Beria Leimona PhD mengatakan, pertemuan hari ini membahas skema-skema pendanaan dan pembiyaan untuk mengatasi perubahan iklim di NTT.

Menurutnya, isu perubahan iklim menjadi fokus utama yang dibahas oleh ICRAF bersama pemerintah Provinsi NTT dalam hal ini Bappedalitbangda Provinsi NTT, karena perubahan iklim bisa menyebabkan bencana, termasuk longsor dan banjir.

Ia menjelaskan, sebenarnya banyak sekali program bagaimana pemerintah dan masyarakat bisa beradaptasi terhadap perubahan iklim. Seperti cara mengatasi banjir dengan membangun rumah yang memiliki fondasi yang tinggi.