“Sudah dibuktikan sebenarnya dengan PKK dan timnya. Mencampur Kelor sebagai makanan tambahan untuk penurunan stunting bagi anak-anak,” katanya.
Ia juga berjanji akan mengelola Kelor secara baik dari hulu ke hilir. Bukan hanya penurunan stunting, tetapi punya manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
“Dia bisa menurunkan, tetapi dengan produksi Kelor mungkin bukan hanya untuk NTT, tetapi bisa untuk kebutuhan di Indonesia. Bukan hanya untuk penurunan Stunting tetapi ada nilai ekonomisnya untuk masyarakat,” jelasnya.
Yohana Lisapaly menambahkan, pada 5 Desember 2022, seluruh stakeholder yang tergabung di dalamnya telah mempresentasikan di Komisi IX DPRI tentang manfaat dari Kelor.
“Ada Pemerintah, Staf Khusus, dari pihak ketiga, peneliti. Itu ada respon luar biasa dari DPR RI, Komisi IX waktu kita minta, kalau bisa secara nasional kita bisa tangani lewat kelor,” jelas Lisapaly.
Hasilnya, ada sinyal positif dari pemerintah pusat bahwa NTT akan mendapat anggaran senilai Rp60 Miliar, untuk pengembangan Kelor. “Kita bisa jadi penyuplai Kelor bukan hanya untuk kebutuhan di NTT, tapi juga secara nasional,” (*)





Tinggalkan Balasan