Seminar ini memang bertujuan untuk itu. Yaitu mewujudkan Unwira yang tangguh. Menurut penanggungjawab acara Seminar Sehari, Dr. Madar Aleksius, M. Ed, yang adalah juga dosen Prodi Bahasa Inggris Unwira, panitia Panca Windu merancang acara seminar tersebut dalam rangka mewujudkan hal tersebut.
Salah satunya adalah dengan memberi kesempatan kepada para dosen untuk bisa mendesiminasikan karya-karya ilmiah hasil penelitian mereka.
“Seminar ini arahnya seperti yang disampaikan dalam materi pembicara utama Prof. Felix bahwa, setiap insan civitas akademika Unwira harus terus mengembangkan kemampuan, dan kecerdasan diri untuk kemudian diaplikasikan secara nyata. Semua harus menjadi tangguh. Artinya para mahasiswa harus mencapai keberhasilan dalam belajar, terus mengembangkan diri dan para dosen juga terus meneliti dan mengabdi untuk memajukan lembaga ini,” katanya.
Dr. Alex mengharapkan agar ke depan, Unwira terus melakukan pemberdaayaan dosen melalui penelitian dan pengabdian. Di mana, hasilnya harus diseminarkan agar suasana akademik di Unwira terus terjaga. “Artinya jangan hanya terjadi pada saat panca windu ini,” tegas Dr. Alex Madar.
Seminar berlangsung sangat baik dan diikuti dengan intens oleh seluruh peserta. Dalam beberapa sesi tanya jawab, para dosen dan mahasiswa nampak terlibat aktif.
Seminar untuk menyongsong puncak perayaan Panca Windu Unwira pada 24 September 2022 mendatang ini dibagi menjadi tiga sesi dalam bentuk panel. Panel 1 oleh P. Ubaldus Djonda, SVD, S.Fil, MA dengan kajian berjudul: “Multilingual Characteristics and Discursive Frames of Touristic Linguistic Landscape of Labuan Bajo, Indonesia.” Kemudian dilanjutkan oleh Eufrasia Lengur, S. Si, M. Si dengan kajian yang tidak kala menariknya yaitu: “Peron Probiotik dalam Pengolahan Pakan Ternak di Propinsi NTT.”
Seminar kemudian dilanjutkan dengan sesi Panel kedua. Yang menghadirkan Dr. Maria Theresia Geme. SH.MH dengan topik kajian:
“Membaca karakter hukum pada kearifan lokal dalam rangka penguatan identitas Keberagaman Hukum”. Dan juga oleh P. Dr. David Amfotis, SVD. MA dengan tema: “The Dialogue between catholic religion and original religion of Biboki (Atoni Pah Meto) Society, through occulturation.”
Panel 3 menampilkan Hironimus Tangi, S.Pd. M.Pd dengan tema: “Etno-STEM dan implementasinya dalam pembelajaran kurikulum merdeka di Sekolah Menengah.”







Tinggalkan Balasan