“Di tengah kemajuan Unwira, ada banyak PR besar bagi Unwira semisal belum ada program studi yang terakreditasi A. Begitu juga belum memiliki dosen yang bergelar profesor,” kata Pater Ocep.

Dikatakannya lebih lanjut, teater ini juga menjadi ‘suara’ yang mewakili para mahasiswa, pegawai maupun dosen yang haknya belum terpenuhi karena dalam posisi ‘dinilai’ atau inforiditas.

“Unwira jangan sampai hanya menjadi nama besar yang menarik ilmu pengetahuan sehingga di sisi lain orang akan menilai Unwira itu Universitas penuh wicara. Jadi melalui teater ini kita mendorong Unwira jangan hanya memiliki nama besar di kolam kecil. Unwira hanyalah ‘lele di kolam kecil’ tetapi di samudera ‘lele’ tidak ada apa-apanya,” lanjutnya.

Pementasan teater yang dihadiri juga oleh Rektor Unwira Pater Philipus Tule, SVD., Ketua Yapenkar Kupang, Pater Yulius Yasinto, SVD., M.A.Sc., Ketua Panitia Pancawindu Unwira, Dr. Elvis Bin Toni, serta para dosen Unwira itu diharapkan menjadi bahan refleksi perjalanan panjang Unwira (40 Th) agar segera berubah. Tidak hanya memiliki nama besar di ‘kolam kecil’ tetapi juga memiliki nama besar di samudera.