Berbagai perubahan positif lain telah dihasilkan oleh proyek Tubuhku Milikku ini meskipun sempat dihambat oleh Pandemi Covid-19. Anak dengan disabilitas berani melapor kepada guru apabila ada temannya yang melakukan hal yang tidak pantas.

“Dulu ada siswa yang dipegang payudara dan diam saja. Namun setelah mereka mendapatkan materi kesehatan reproduksi dari proyek Tubuhku Milikku, siswa sudah tahu bagian tubuh mana yang mereka harus jaga, mana yang boleh disentu dan mana yang tidak boleh disentuh,” lanjut Mawar Pohan.

Proyek Tubuhku Milikku berupaya meningkatkan pengetahuan dan akses layanan bagi anak dan remaja dengan disabilitas dan kusta terhadap hak kesehatan seksual reproduksi.

Proyek ini telah mendorong keterlibatan sekolah Inklusi, sekolah luar biasa, puskesmas, posyandu remaja, pemerintah desa untuk memberi edukasi lebih luas tentang kesehatan reproduksi dan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan remaja dengan disabilitas dan kusta.

Proyek Tubuhku Milikku dilaksanakan di Ruteng, Labuanbajo, Kefamenanu dan Kupang selama 3 tahun (2018-2021). NLR Indonesia melatih 42 fasilitator local (guru, petugas Kesehatan, kader, orang tua dan pendamping), serta menjangkau 344 anak (264 anak dengan disabilitas, 12 anak yang pernah mengalami kusta dan 68 anak non-disabilitas) di 4 kabupaten/kota di Propinsi NTT.