Proyek Tubuhku Milikku dilaksanakan di Ruteng, Labuanbajo, Kefamenanu dan Kupang selama 3 tahun (2018-2021). NLR Indonesia melatih 42 fasilitator local (guru, petugas Kesehatan, kader, orang tua dan pendamping), serta menjangkau 344 anak (264 anak dengan disabilitas, 12 anak yang pernah mengalami kusta dan 68 anak non-disabilitas) di 4 kabupaten/kota di Propinsi NTT.
Dua anak penerima manfaat menyampaikan rasa terima kasih atas proyek ini. Wilhelmina (18) asal NTT senang mendapat materi yang belum pernah diterimanya yaitu perbedaan bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh. Wilhelmina juga diberi kesempatan luas untuk bicara tentang pengalaman kesehatan reproduksi di depan publik.
“Biasanya hanya anak non disabilitas diberi kesempatan bicara, tapi proyek Tubuhku Milikku memberi saya banyak kesempatan untuk tampil memberi testimony di berbagai kesempatan,” ujar Wilhelmina.
Sementara Geby (21) dari NTT yang pernah mengalami kusta mengharapkan keigatan pendidikan kesehatan reproduksi dapat diperluas ke semakin banyak anak dan remaja disabilitas di seluruh Indonesia.
Proyek Tubuhku Milikku ini telah mendorong berbagai pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan remaja. Di beberapa desa sudah disiapkan pembuatan rancangan peraturan desa tentang perlindungan dan pemberdayaan disabilitas. Di dalamnya termuat isu hak kesehatan seksual dan reproduksi anak dan remaja disabilitas.
Ketua Komnas Disabilitas Dante Rigmalia menyatakan siap bersinergi dan berkolaborasi demi melakukan pemantauan, evaluasi, penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas dan kusta. (Nona)







Tinggalkan Balasan