Andryani mengaku kaget dengan perkembangan Bank NTT. Pihaknya sama sekali tidak menyangka bahwa Bank NTT punya teknologi digital yang sangat efektif dan efisien dalam melayani nasabah.

“Sama sekali tidak menyangka dan di luar ekspektasi kami. Karena hampir sebagian besar pelayanan sudah dialihkan ke sistem layanan digital, dan ini sangat bagus menurut saya,” jelas Andryani.
Gebrakan dan inovasi yang dilakukan Bank NTT saat ini pun dinilai sangat baik, di mana Bank NTT telah melaksanakan festival di sejumlah desa binaan Bank NTT.
Kata Andryani, pelayanan Bank NTT kepada masyarakat di desa-desa saat ini telah menghapus penilaian bahwa bank daerah bukan lagi milik PNS dan pemerintah, tapi sudah jadi milik masyarakat.
“Fokus kami sebenarnya ke Smart Branch Sistem. Tetapi dalam diskusi, ternyata Bank NTT sudah melaksanakan festival desa binaan, bahkan mereka ingin lakukan festival PAD,” jelasnya.
“Kami sangat tertarik untuk mempelajarinya. Karena program desa binaan juga pernah diarahkan oleh Direktur kami, untuk membuat satu contoh desa binaan, yang memiliki UMKM, serta pemberdayaan UMKM dan digitalisasi,” pungkas Andryani.
Sementara Kepala Divisi Rencorsec dan Legal Bank NTT Endri Wardono mengatakan, pihaknya sangat senang dan bangga, karena dari sekian banyak bank, Bank Sulselbar lebih memilih Bank NTT untuk melakukan studi banding terkait digitalisasi Smart Branch.
“Kami bersyukur dan bangga, karena kita di NTT yang dibilang daerah minus, tetapi ternyata nuansa teknologinya lebih maju dari daerah lain. Karena kita memiliki pemimpin yang memiliki visi, digitalisasi dan pemulihan ekonomi masyarakat yang berbeda,” jelasnya.
Menurut Endri, manajemen Bank Sulselbar mempelajari banyak hal dari Bank NTT, terkait inovasi sistem digital. Mereka mempelajari proses awal menjadi Smart Branch, serta proses perizinan yang merupakan bagian penting dari Smart Branch.







Tinggalkan Balasan