“Kalian sudah mendapat pembekalan dari Panitia, juga dari Dinas BPMD dan Dinas Perlindungan Perempuan dan anak. Yaitu soal Bumbde dan juga Stunting. Jadi saya sangat yakin kalian akan mampu mempraktekan apa yang harus kalian lakukan di lapangan,” kata Pater Rektor dengan nada optimis.

Menurut Rektor yang memasuki periode kedua memimpin Unwira ini, dalam konteks kemajuan, provinsi NTT senantiasa dipandang sebagai provinsi tertinggal yang menempati posisi tiga terakhir dari semua provinsi di Indonesia. Bahkan dalam bidang sosial ekonomi, berdasarkan sebuah survey, NTT menempati posisi terakhir.

Oleh karena itu, Unwira hadir untuk berkontribusi sesuai bidangnya, yaitu menjawabi berbagai masalah, terutama dalam hal kualitas SDM dan sosial ekonomi.

Salah satunya adalah Unwira mengutus mahasiswa dan para dosen penamping untuk melakukan pemberdayaan dan pengabdian di tengah masyarakat.

“Tujuannya adalah agar melalui pemberdayaan dan pengabdian, potensi-potensi yang ada di tengah masyarakat kita digerakan dan kita dorong dengan menggunakan apa yang kita miliki dari pembelajaran di kelas agar potensi-potensi itu bisa berguna membangkitkan perekonomian masyarakat,” kata Pater Rektor.

Sebagai Rektor, Pater Philupus meminta agar ke 420 orang peserta KKN memahami dengan baik tema KKN, untuk kemudian mengaplikasikannya saat berada di lapangan.