“Waktu itu, tepatnya satu minggu, badannya langsung panas semua,” ungkap Riko kepada media ini di kediammnya.
Melihat kondisi putranya itu, Riko mengaku sangat bingung. Di tengah kondisi ekonomi yang serba kekurangan, ia dan istri tidak bisa membawa Gerat ke fasilitas kesehatan. Mereka hanya terus melihat perkembangan sakit yang diderita Gerat.
Saat memasuki Minggu keempat, dengan terpaksa, ia bersama sang istri menghantar Mario ke Puskesmas Warsawe untuk diperiksa dokter.
“Jawaban dokter kala itu, kami hanya bisa berikan beberapa jenis obat saja, dan alangkah baiknya anak Ibu dan Bapak dibawa ke Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo,” kata Riko.
Setelah mendengar jawaban sang dokter, Riko berusaha mencari jalan lain yakni ke dukun-dukun yang cukup terkenal menyembuhkan sakit seperti yang diderita putranya. Upaya itu terus dilakukan oleh sang ayah, namun tak membuahkan hasil.
“Upaya dari awal jatuh sakit hingga tahun 2021 tidak juga membuahkan hasil. Saya dan istri akhirnya pasrah kepada Tuhan. Semoga ada mukjizat dari Tuhan untuk putra kami,” tutur Riko dengan nada sedih.
Hingga saat ini, Riko dan istrinya tidak pernah berusaha lagi, baik ke dokter maupun dukun untuk kesembuhan putra mereka itu. Mereka sudah kehabisan biaya. Jika terus berupaya ke dukun atau ke dokter, berarti harus menjual tanah untuk biaya pengobatan.



Tinggalkan Balasan