Guru olahraga ini merasa bersyukur karena banyak pendukung yang menyemangatinya hingga masuk final, khususnya warga NTT di Mimika. Dukungan dan gemuruh sorak-sorai para suporter menjadi kekuatan lebih baginya untuk melangkah ke partai final.

“Terima kasih banyak buat masyarakat NTT yang ada di Timika ini, terkhusus peguyuban Flobamora (Flores, Sumba, Timor, dan Alor) yang setia mendampingi setiap pertandingan saya. Kalau NTT bertanding pasti mereka antusias untuk menyaksikan. Semoga sampai final mereka bisa terus mendukung,” ujarnya.

Ia juga semakin bersemangat karena dukungan istri dan dua anaknya, yang selalu menyaksikan dirinya saat bertanding.

“Dukungan istri, anak, orang tua para pelatih dan official, serta semua masyarakat NTT sangat berarti buat saya. Dukungan mereka buat saya bisa melangka sejauh ini,” ujarnya.

Pria 30 tahun ini menjelaskan, prestasi yang pernah diraihnya pada Tarung Derajat hanyalah dua perunggu saat dua kali mengikuti pra-PON.

“Ikut pertama lolos pra-PON, tapi sampai di babak penyisihan di PON kalah. PON tahun ini baru bisa sampai masuk final. Ini memang pertolongan Tuhan yang luar biasa,” katanya lagi.