“Saya usaha Wortel saja untuk menutupi kebutuhan kami. Wortel ini saya bawa ke pasar untuk dijual. Hasilnya kami bisa pakai beli beras dan memenuhi kebutuhan anak saya,” kata Getrudis kepada Koranntt.com, Rabu 29 September 2021.
Selain Wortel, ia juga sempat membuka usaha menjual bensin di depan rumahnya. Tetapi karena tidak diberi izin oleh Pertamina, ia akhirnya memilih berhenti, pasalnya ia tidak mengantongi surat izin menjual bahan bakar minyak.
Anjangsana PJM
Pada Rabu 29 September 2021, Koranntt.com dan beberapa media lainnya yang tergabung dalam organisasi Persatuan Jurnalis Manggarai (PJM) bertandang ke rumah Getrudis.
Kepada awak media, Getrudis mengaku saat ini dirinya kekurangan biaya untuk mengobati anak sulungnya yang sedang mengalami gangguan jiwa. Sedangkan bantuan pemerintah ia terima dalam bentuk BLT Covid-19.
“Dapat bantuannya hanya BLT Covid-19 saja pak, sebelumnya tidak ada,” ungkap Getrudis sembari meneteskan air matanya.
Dalam kesempatan anjangsana itu, tim PJM juga menemui Enjel, putri Getrudis yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di bangku SMP.
Kepada wartawan, Enjel bercerita soal ibunya. Ia merasa begitu banyak perubahan pada ibunya, sejak kakak sulungnya Gery yang sebelumnya dirawat di Klinik Renceng Mose kembali ke rumah.
“Kak, akhir-akhir ini mama sering sakit. Minggu lalu dia ke dokter, katanya ada gangguan di hati. Mama pernah kena struk ringan. Kami tau, mama sudah lelah sekali, tetapi ia tidak pernah cerita kepada kami,” kisah Enjel.
Menurut Enjel, beban kehidupan keluarganya memang makin hari makin berat. Ibunya berjuang sendiri, membiayai kebutuhan makanan, pendidikan, dan obat kakak sulungnya.
Ia berharap, kelak pemerintah atau siapa pun bisa membantu meringankan beban hidup keluarganya, terutama biaya untuk perawatan kakak sulungnya. (*)







Tinggalkan Balasan