Kupang, KN – Anggota Veteran di Kabupaten Belu dan Malaka ditipu oleh calo yang mengatasnamakan diri sebagai pengurus LVRI wilayah setempat.
Akibat dari perbuatan para calo yang bebas berkeliaran ini, korban yang bernama Fernando De Araujo mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Kuasa Hukum, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) NTT, Fransisco Bernando Bessi mengatakan, praktik para calo ini dilaksanakan sudah sejak lama dan sangat meresahkan masyarakat setempat.
Ia menjelaskan, calo veteran di Kabupaten Belu dan Malaka membuat sendiri SK Veteran, KTP calon veteran, tabungan rekening, akta pernikahan dan lain-lain.
“Kami sudah sampai di lapangan dan kami menemukan fakta bahwa praktik calo di sana sangat banyak,” ujar Fransisco Bessi kepada wartawan di Kupang, Jumat 5 Maret 2021.
Menurut dia, kasus percaloan yang bebas berkeliaran di Kabupaten Belu dan Malaka sudah ditindaklanjuti dengan laporan kepada Bupati Belu, DPRD Belu, Polres Belu bahkan Polda NTT.
“Kami juga membuat laporan polisi dari tahun kemarin sampai hari ini yang belum diselsaikan. Bahkan lima laporan polisi dari pihak calo kepada kami dihentikan penyelidikannya oleh Polda NTT,” terang Fransisco Bessi.
Ia dengan tegas meminta publik untuk tidak mempercayai calo-calo veteran. Masyarakat diminta untuk mengurus administrasi veteran di lembaga resmi baik di Atambua, Malaka, maupun di Kupang, sepanjang memenuhi persyaratan.
“Kami dari LVRI Provinsi NTT akan bertemu Bupati dan Wakil Bupati yang baru terpilih, untuk bersosialisasi sekalian perkenalan. Ini juga sebagai tindak lanjut pertemuan kami dengan Pak Wakapolda saat itu, Jhony Asadoma,” ucap Fransisco Bessi.
Pengacara muda ini juga meminta pihak pemerintah dan aparat kepolisian serta TNI untuk membantu menyelesaikan praktik calo di Belu dan Malaka ini.
“Untuk informasi dan data, kami dari LVRI NTT dan LVRI Belu dan Malaka siap membantu aparat penegak hukum dalam mengungkap kasus percaloan,” tandas Sisco Bessi.
Sementara itu, Niko Dawi sebagai Sekretaris LVRI NTT merasa prihatin karena calon veteran di Belu dan Malaka ditipu oknum calo.
“Masyarakat telah berjuang secara langsung, dan hak yang seharusnya didapat, harus dipermainkan oleh oknum calo,” jelas Niko.
Ia juga mengakui bahwa korban penipuan atas nama Fernando De Araujo merupakan anggotanya dulu di Kodim Soe.
“Tetapi dalam perjalanan dia ditipu calo. Uang yang harusnya dia dapat adalah Rp43,5 Juta, tetapi dia hanya terima Rp10 Juta. Sisanya digasak calo,” ungkap Niko.
Dawi juga mencurigai ada oknum di balik permainan para calon veteran di Belu dan Malaka. “Sehingga mereka bergerak bebas selama ini,” ucapnya.
Sedangkan, Fernando De Araujo mengakui praktik calo veteran yang menimpa dan merugikan dirinya pada tanggal 22 Oktober 2021.
Baca selanjutnya
Pengakuan Fernando De Araujo
Saat itu, Fernando De Araujo melakukan pencairan uang dana Dahor sebanyak Rp43,5 Juta. Sebelum tiba di rumah, uang itu diserahkan ke oknum calo berinisial MM untuk dihitung.
Araujo menjelaskan, MM mengatakan kepada dirinya bahwa, TXP adalah “BOS”, lalu uang itu diserahkan ke TXP sebesar Rp18 Juta.
“Di atas mobil, sisa uang Rp25,5 Juta diambil MM sebanyak Rp15,5 Juta dan mengemblikan uang ke saya hanya Rp10 Juta,” ujar Fernando.
Dari Laporan Fernando ke Kantor LVRI Kabupaten Belu, pada Tanggal 4 Februari 2021, Tim Intel Kodamm melakukan pengembangan.
Akhirnya pada tanggal 16 Februari 2021, TXP di tangkap di kos-kosan yang selama ini ia tempati.
Dari hasil penangkapan itu, Tim Intel Kodamm berhasil mengamankan barang bukti berupa, SK Veteran Asli,Foto copy dan Scan, SKEB Veteran (Asli dan Scan), KTP calon veteran (Asli dan Scan), Tabungan Rekening, Akta Perkawinan Calon veteran, Kartu Keluarga (KK), Surat Permintaan Pembayaran berlogo PT. Taspen Kupang, Laptop yang digunakan untuk melakukan editing surat-surat veteran. Di dalam laptop juga terdapat data veteran serta Alat Laminating yang digunakan TXP untuk melakukan press surat-surat seperti KTP dll.
Saat ditangkap, TXP dan MM mengakui semua perbuatan mereka ke Intel Kodamm Kabupaten Belu dan siap menganti rugi uang milik Fernando De Araujo.
Pada tanggal, 16 Februari 2021 di Kantor LVRI Belu, para pihak melakukan mediasi dan pada saat itu juga TXP menyerahkan uang Rp20 Juta. Sisa uang sesuai perjanjian akan dikembalikan pada 24 Februari 2021.
Pada tanggal 24 Februari 2021, MM dan TXP hanya mengembalikan uang sisa sebanyak Rp10 Juta, dan mereka menandatangani surat pernyataan di atas materai 6.000 untuk tidak mengulangi perbuatan mereka.*





2 Komentar
Slama ini manusia biadap dong su ceke bnyak. Dengar cerita dr orang2 yg slma ini urus ktanya biasa yg dikeluarkan ntk dptkan SK sj di hitung sdh smpe puluhan juta. Sedikit2 uang.
Slama SK blm ada maka uang siap ntk kluar trus.