Ruteng, KN – Seorang warga berinisial DD, di Kabupaten Manggarai, NTT, mengaku pernah menjalani isolasi mandiri di rumah tanpa pengawasan Satgas Covid-19 Manggarai.
DD terpapar Covid-19, berdasarkan hasil rapid antigen di salah satu Klinik di Kota Ruteng, pada tanggal 20 Januari 2021 lalu. Kala itu, DD melakukan rapid antigen karena gejala flu dan indra penciumannya tidak berfungsi.
Pasca rapid antigen, ternyata hasilnya ia terkonfirmasi Covid-19. DD kemudian memutuskan untuk menajalani isolasi mandiri selama 14 hari di rumahnya.
”Saya pergi rapid antigen karena ada gejala flu dan indra penciuman tidak berfungsi. Setelah rapid, hasilnya saya positif Covid-19,” kata DD kepada wartawan, Jumat 26 Februari 2021.
Dikatakan ibu dari 4 orang anak itu, selama menjalani karantina mandiri, tidak ada Tim Gugus Tugas Kabupaten Manggarai yang mengontrol dan melakukan perawatan.
“Selama saya karantina mandiri, tidak ada Tim Gugus Tugas Covid-19 yang datang ke rumah untuk mengontrol saya, baik dari segi pengobatan dan sebagainya,” ucapnya.
Setelah selesai menjalani isolasi mandiri pada tanggal 2 Februari 2021, DD menjalani rapid antigen kedua kalinya, dan hasilnya negatif.
DD juga menuturkan, pada tanggal 4 Februari 2021, anak laki-lakinya pun terpapar Covid-19, setelah pulang dari Kabupaten Ende.
Berbeda dengan dia, anak laki-laki DD melakukan rapid antigen di Rumah Sakit Ben Mboi Ruteng, dan langsung menjalani isolasi di rumah sakit.
“Anak saya juga pernah terpapar Covid-19 dan isolasi di Rumah Sakit Ben Mboi Ruteng, karena dia rapid di Rumah Sakit,” ungkap DD.
Ia mengaku merasa resah, karena kurangnya koordinasi, maupun sosialisasi dari Pemerintah Kabupaten Manggarai, melalui Tim Gugus Tugas, terutama saat pasien terpapar Covid-19.
Baca selanjutnya
Gugus Tugas Membantah
Pasca sembuh dari Covid-19, DD mengaku sampai sekarang, ia bersama keluarganya merasa dijauhi, serta dikucilkan oleh tetangga dan orang di sekitar.
Ia berharap agar Tim Gugus Tugas melakukan sosialisasi dan mengekspose ke media nama-nama pasien yang telah dinyatakan sembuh dari Covid-19, agar tidak dikucilkan dari masyarakat.
“Tolong, Tim Gugus Tugas Covid-19 kalau boleh sosialisasikan ke masyarakat nama pasien yang sembuh dari Covid-19 agar tidak dikucilkan dan tidak dianggap najis. Karena kami sekarang, sangat sulit untuk diterima kembali di masyarakat dan susah untuk menjelaskannya,” ucap DD menggambarkan isi hatinya.
Menurutnya, hal yang sama bisa juga dialami oleh mereka yang salah satu keluarganya meninggal karena Covid-19. “Bukan tidak mungkin, mereka juga alami hal yang sama seperti kami,” pinta DD.
Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Manggarai, Lodovikus D. Moa yang dikonfirmasi wartawan membantah persoalan tersebut.
Lody mengatakan Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 selalu berkoordinasi dan melakukan sosialisasi tentang pasien-pasien yang sudah sembuh.
“Kami selau berkordinasi untuk lakukan sosialisasi tentang mereka yang sudah sembuh. Itu kami sampaikan kepada sesama Tim Gugus, kepada Desa dan Kelurahan,” kata Lodovikus.
“Untuk mereka yang lakukan karantina mandiri, juga kami tetap kontrol sesuai dengan aturan protokol kesehatan,” tandas Lody.*





Tinggalkan Balasan