“Perawatan cuma 1 bulan di RSUD, karena kami tidak lagi memiliki biaya untuk membayar rumah sakit. Biar ada BPJS namun tetap tidak mencukupi. Apalagi suami saya sudah meninggal,” ungkapnya.
Herlina sempat mengenyam pendidikan di SDI Golo Tebo, namun karena keadaannya semakin parah, akhirnya Herlina harus putus sekolah, dan berjuang melawan penyakit yang dideritanya.
“Ciri-ciri fisik bengkak dari perut bagian Kiri. Saat ini bengkaknya semakin besar. Kata dokter setelah dikontrol, putri saya harus dirawat inap di RSUD Ben Mboi. Namun kami tidak cukup biaya,” jelasnya.
Selama hidup, Theresia pun tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat berupa bantuan. Ia berjuang sendiri melawan hidup untuk menafkahi keluarganya.
“Kami tidak pernah dapat bantuan dari desa. Banya dapat bantuan PKH namun itu tidak bisa menjamin atau mencukup kebutuhan keluarga kami, apalagi saat sakit begini,” imbuhnya.
Smentara itu, Bahbinkantibmas Kelurahan Watu Bripka Andi Darma Elim Sallata mengatakan, bocah pendertita bengkak perut tersebut kondisinya sangat memprihatinkan, sehingga saat ini masih berada di RSUD Ben Mboi Ruteng untuk mendapatkan perawatan.





Tinggalkan Balasan