Kupang, KN – Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengharapkan agar kolaborasi antara institut Pertanian Bogor (IPB), dengan berbagai pemangku kepentingan di NTT baik itu pemerintah daerah maupun perguruan tinggi di NTT dapat berdampak bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Pendekatan stunting di NTT bukan hanya soal pangan saja tapi juga berkaitan dengan pranata sosial budaya dan pendidikan. Kemiskinan di NTT bukan karena alamnya tapi karena kemampuan untuk mengolahnya yang belum optimal. Kami butuh orang-orang seperti bapak dan ibu yang bisa menjadi trigger atau pemicu. Saya tahu IPB salah satu perguruan tinggi yang sangat hebat, yang mampu melakukan ini, ” jelas Gubernur VBL saat menerima audiensi tim Peneliti dari IPB yang dipimpin oleh Prof. Dr. Alimmudin, S. Pi, M. Sc. di ruang kerja Gubernur, Senin 4 Oktober 2021 seperti dilansir dari Siaran Pers Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT.
Didampingi oleh Ketua Yayasan Kasih Roslin Mandiri Kupang, Budi Soehardi, Tim Peneliti dari IPB membawa mandat dan tugas dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) untuk membantu penanganan stunting dari aspek pangan.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur VBL mendorong kerjasama antara IPB dengan perguruan tinggi di NTT bukan hanya (transfer) ilmunya saja tapi juga kerja nyata yang produktif. Semangat kolaboratif harus terwujud di lapangan.
“Kita punya banyak lembaga atau tempat pembenihan tapi masih kurang produktif. Dulu kita termasuk daerah pengekspor sapi yang hebat. Juga punya potensi laut yang luar biasa. Provinsi ini adalah penghasil lobster mutiara terbesar di Indonesia. Kalau seluruh ahli kita punya tantangan lapangan yang kuat, berpanas-berpanasan dan berhujan-hujanan di lapangan serta berani mabuk laut, kita bisa atasi persoalan kemiskinan di NTT. Kalau kita mau serius seperti ini, kita bisa keluar dari kemiskinan. Semangat seperti ini kita harapkan dapat ditularkan oleh ahli dari IPB, ” jelas Gubernur Viktor.







Tinggalkan Balasan