Kupang, KN  – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena, meminta aparat kepolisian untuk menindak tegas akun penyebar hoaks di NTT.

Ia menyebut, ruang digital di NTT kini semakin dipenuhi akun-akun tanpa identitas jelas, yang dengan bebas menyerang individu, menyebarkan provokasi, hingga menggiring opini publik melalui informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Saya sebenarnya meminta kepada aparat kepolisian dan aparat hukum untuk tindak saja. Ruang publik digital kita sekarang dipenuhi akun-akun yang tidak jelas orangnya siapa, tapi dengan mudah menyerang, menyebarkan konten negatif, memprovokasi, dan membuat gaduh,” kata Melki, Sabtu (9/5/2026).

Ia menyebut fenomena tersebut tidak bisa lagi dianggap biasa karena telah mengubah media sosial menjadi “tempat sampah digital” yang dipenuhi fitnah dan kebencian.

Menurutnya, negara tidak boleh membiarkan ruang digital dikuasai akun anonim yang merusak tatanan sosial masyarakat.

“Kalau dibiarkan terus, lama-lama ruang digital kita penuh sampah. Dan sampah itu tugasnya dibuang, dibakar, dimusnahkan, bukan dibiarkan menjadi bagian dari kehidupan bersama yang merusak tatanan sosial kita di bidang digital,” katanya.

Melki secara terbuka meminta polisi tidak ragu menangkap pemilik akun penyebar hoaks dan ujaran kebencian, termasuk akun anonim yang selama ini sulit dilacak identitasnya.

Ia menilai setiap pengguna media sosial harus bertanggung jawab atas konten yang dipublikasikan.

“Siapa saja yang menggunakan media digital harus bertanggung jawab. Kalau tidak jelas orangnya siapa, saya pikir tangkap dan segera dieksekusi proses hukumnya. Karena ini merusak dunia sosial kita,” ujarnya.

Menurut Melki, maraknya hoaks dan fitnah bukan hanya menciptakan kegaduhan di media sosial, tetapi juga memicu perpecahan sosial di tengah masyarakat.

Informasi bohong yang terus diproduksi tanpa kontrol, dinilai dapat memengaruhi cara masyarakat berpikir, menimbulkan saling curiga, bahkan memecah hubungan sosial warga.