Resmikan Tugu Pilu Tuan, Wali Kota Kupang: Simbol Persatuan di Gerbang Batas Kota-Kabupaten

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo bersama warga Kelurahan Fatukoa pada Selasa (5/5). (Foto: Dok. Prokopim Kota Kupang)

KUPANG, KN – Kelurahan Fatukoa kini memiliki identitas baru yang sarat akan nilai sejarah dan kebersamaan. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, meresmikan Tugu Pilu Tuan, sebuah penanda batas wilayah yang menghubungkan Kelurahan Fatukoa (Kota Kupang) dengan Desa Oelomin (Kabupaten Kupang), pada Selasa (5/5).

Peresmian ini menjadi istimewa karena Tugu Pilu Tuan lahir dari semangat swadaya murni masyarakat RT 23 dan warga Fatukoa lainnya. Kehadiran Wali Kota menunjukkan komitmennya untuk mendengar aspirasi langsung dari pinggiran kota.

Bukan Sekadar Fisik, Tapi Simbol Harmoni

Dalam sambutannya, dr. Christian Widodo memberikan apresiasi tinggi kepada warga yang telah bergotong-royong membangun tugu tersebut. Ia menekankan bahwa Tugu Pilu Tuan adalah wajah pertama Kota Kupang bagi pendatang dari wilayah Kabupaten.

“Tugu ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol kebersamaan, cinta, dan sejarah antara warga Kota Kupang dan Kabupaten Kupang,” ungkap Wali Kota.

Senada dengan hal tersebut, tokoh masyarakat Fatukoa, Daniel Boen Balan, menegaskan bahwa keberadaan tugu ini bukanlah sekat pemisah. Sebaliknya, tugu ini merupakan penegasan administratif untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih tertib dan pelayanan masyarakat yang lebih berkualitas.

Sinergi Infrastruktur dan Komitmen Melayani

Wali Kota juga menyoroti kemajuan infrastruktur jalan di kawasan Fatukoa yang dinilai sangat baik. Hal ini merupakan buah sinergi antara Pemerintah Kota, DPRD, dan dukungan dari Balai terkait.

BACA JUGA:  Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Dilaksanakan Secara Virtual

Namun, dr. Christian menegaskan bahwa pembangunan fisik harus dibarengi dengan transformasi mental pelayanan birokrasi. Ia memberikan instruksi tegas kepada jajaran kewilayahan untuk memperhatikan kecepatan respons dalam pelayanan publik. Lurah dan camat diminta sigap menindaklanjuti setiap keluhan warga.  

“Pemerintah bukan lagi yang memerintah, tetapi yang melayani,” tegas dr. Christian.

Pesan Persatuan dalam Keberagaman

Menutup rangkaian acara, Wali Kota mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan di tengah keberagaman Kota Kupang. Ia menganalogikan harmoni sebagai sebuah keseimbangan, bukan keseragaman.

“Kita berbeda-beda, tapi punya tujuan yang sama, yaitu membangun Kota Kupang menjadi lebih baik. Harmoni itu bukan soal menjadi sama, tapi soal menjadi seimbang,” pungkasnya.

Hadir dalam acara tersebut Anggota DPRD Kota Kupang Johny Luther Sau, pimpinan perangkat daerah, Camat Maulafa, serta tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat. Peresmian ini diharapkan menjadi momentum bagi warga Fatukoa untuk semakin bangga dan peduli menjaga keindahan lingkungan di wilayah perbatasan.

Pilihan nama “Pilu Tuan” dan pembangunannya yang bersifat swadaya menunjukkan tingkat kesadaran kolektif warga Fatukoa yang sangat tinggi terhadap identitas wilayah. Bagi Pemkot, ini adalah modal sosial yang besar untuk mendukung program-program partisipatif di masa depan. (*agn)

IKUTI BERITA TERBARU KORANNTT.COM di GOOGLE NEWS
Penulis: Agung