Kupang, KN – Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) dinilai memiliki peran strategis dalam sejarah politik Indonesia, khususnya dalam proses lahirnya Partai Golkar.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Depidar SOKSI NTT, Laurens Leba Tukan, dalam kegiatan pembekalan bagi mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang di Kantor Golkar NTT, Rabu (6/5/2026).
Dalam pemaparannya, Laurens menjelaskan bahwa SOKSI didirikan pada 20 Mei 1960 oleh Suhardiman, seorang purnawirawan TNI sekaligus intelektual nasional.
Organisasi tersebut lahir dengan tujuan utama membela Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 di tengah dinamika politik nasional pada masa Orde Lama.
“Pada masa itu terjadi pertarungan ideologi antara kelompok nasionalis, agama, dan komunis. SOKSI hadir sebagai respons terhadap meningkatnya pengaruh organisasi buruh berhaluan kiri seperti SOBSI yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia,” jelas Laurens.
Ia menuturkan, SOKSI awalnya bernama Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia. Namun, istilah “Sosialis” kemudian diubah menjadi “Swadiri” untuk menegaskan orientasi organisasi yang mandiri dan berlandaskan Pancasila.
SOKSI merupakan salah satu dari tiga Kelompok Induk Organisasi (KINO) bersama KOSGORO dan MKGR yang menjadi fondasi berdirinya Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Dari perkembangan tersebut, kemudian lahir Partai Golkar yang menjadi kekuatan politik dominan pada era Orde Baru.
Menurutnya, hingga kini SOKSI tetap mempertahankan peran sebagai organisasi kader dengan menanamkan nilai patriotisme, profesionalisme, dan loyalitas terhadap negara serta konstitusi.
“Di bawah kepemimpinan Mukhamad Misbakhun, SOKSI terus melakukan konsolidasi nasional untuk memperkuat posisi sebagai pilar historis dan penopang politik Partai Golkar,” ujarnya.
Dalam pembekalan tersebut, mahasiswa Ilmu Politik Undana juga diajak memahami pentingnya mempelajari SOKSI sebagai bagian dari dinamika politik Indonesia.
Menurut Laurens, SOKSI menjadi contoh bagaimana organisasi kemasyarakatan dapat bertransformasi menjadi kekuatan politik, sekaligus menggambarkan relasi antara militer, sipil, dan partai politik dalam sejarah Indonesia modern.
Kegiatan pembekalan ini diikuti oleh sejumlah mahasiswa Ilmu Politik Undana, yakni Joseph Imanuel Ame, Meisya Lita Putri Kurnia, Cristian Nixon Nube Mella, Matius Djari, Roland F. D Lake, Gerald Andhika Muni Rasi, dan Imanuel Stenly A. Lanus. (*)

