Karena itu, kata dia, Ketua DPRD Alor tidak boleh duduk pangku tangan, dan harus segera memutuskan apakah kepemimpinan Bupati dilanjutkan atau tidak.
“Jangan Bupati sakit, antek-antek Bupati menguasai Kantor Bupati Alor, bikin memo sembarang, kerja sembarang, tunjuk kepala dinas sembarang, kepala dinas kerja lain, protokol kerja lain, sekda kerja lain. Anda duduk pangku tangan, seolah-olah anda itu wakil rakyat tapi boneka dan malaikat tidak berdosa,” ungkap Ebenhaezer.
Ebenhaezer berharap Ketua DPRD Alor segera menjalankan fungsi sebagai Ketua DPRD, yang bisa menyelesaikan situasi kekacauan birokrasi di Kabupaten Alor.
“Jalankan fungsi sebagai seorang Ketua DPRD yang sebaik-baiknya. Jangan pikir untuk bertarung 2029, tapi pikir kebutuhan rakyat saat ini,” pungkasnya.
Ketua DPRD Alor, Buche Brikmar yang dikonfirmasi awak media, menanggapi santai kritikan dari aktivis tersebut.
Menurut Buche, setiap orang punya hak menyampaikan kritik, dan ia menghormati kritik yang disampaikan tersebut.
“Tidak terlalu penting. Soal kritik ya silahkan, setiap orang punya hak untuk sampaikan persepsi masing-masing, dan kita hormati itu,” tandas Buche. (*)









Tinggalkan Balasan