Kupang, KN – Seorang aktivis yang menamakan diri aktivis anak kampung, Ebenhaezer Tung Sely mempertanyakan kinerja Ketua DPRD, Paulus Buche Brikmar dan Bupati Alor Iskandar Lakamau.
Kritik tajam Ebenhaezer itu disampaikan langsung lewat akun Tiktok miliknya, dan viral di sosial media. Dalam video tersebut, ia juga meminta Ketua DPRD Alor memutuskan nasib Bupati Alor yang saat ini sedang sakit, apakah lanjut memimpin atau tidak.
Dalam pernyataannya, Ebenhaezer mengatakan, saat ini kinerja eksekutif dan legislatif di Kabupaten Alor dipertanyakan oleh masyarakat.
“Kalau menjawab pertanyaan ini, saya mau bilang DPRD sudah tidak ada, dan Ketua DPRD sudah mati suri. Karena fungsi DPR sebagai legislatif dalam bidang pengawasan dan penganggaran sudah tidak ada dalam tubuh DPR dan Ketua DPR itu adalah orang yang paling bodoh,” kata Ebenhaezer.
Ia menyebut Ketua DPRD Alor periode ini adalah politisi yang takut bayangan. Menurutnya, jika masyarakat tahu kinerja DPRD dan Bupati, maka pertanyaan awal yang disebutkan di atas tidak akan keluar dari mulut masyarakat.
“Tetapi menjalankan tugas pengawasan tidak ada pada Ketua DPR dan Ketua DPR paling bodoh dan takut bayangan,” ujar Ebenhaezer.
Ia mendesak Ketua DPRD Alor untuk segera mencari solusi terkait kondisi Bupati Alor yang saat ini diketahui sedang sakit berat. Ebenhaezer juga menyebut Ketua DPRD Alor sebagai boneka, karena tidak ada kinerja yang ditunjukan kepada masyarakat.
Saat ini, kata dia, di Kantor Bupati Alor, sejumlah antek-antek menguasai peran Bupati, yang saat ini sedang sekit. Situasi ini, menurutnya, menimbulkan kekacauan dalam sistem birokrasi Kabupaten Alor. Hal ini pun luput dari pantauan DPRD.
“Memalukan kalau sampai hari ini ada warga Alor yang mempertanyakan ada DPR tau tidak. Itu tanda bahwa anda gagal sebagai Ketua DPR,” tegasnya.
Ia berharap, kritiknya yang disampaikan menjadi bahan evaluasi atau introspeksi diri bagi Ketua DPRD untuk diperbaiki ke depan.
Pada kesempatan yang sama, Ebenhaezer juga melayangkan kritik pedas kepada Bupati Alor Iskandar Lakamau. Ia mengatakan, sejak dalam kondisi sakit, Bupati Alor juga tidak menunjukan kinerja yang baik kepada masyarakat.
Karena itu, kata dia, Ketua DPRD Alor tidak boleh duduk pangku tangan, dan harus segera memutuskan apakah kepemimpinan Bupati dilanjutkan atau tidak.
“Jangan Bupati sakit, antek-antek Bupati menguasai Kantor Bupati Alor, bikin memo sembarang, kerja sembarang, tunjuk kepala dinas sembarang, kepala dinas kerja lain, protokol kerja lain, sekda kerja lain. Anda duduk pangku tangan, seolah-olah anda itu wakil rakyat tapi boneka dan malaikat tidak berdosa,” ungkap Ebenhaezer.
Ebenhaezer berharap Ketua DPRD Alor segera menjalankan fungsi sebagai Ketua DPRD, yang bisa menyelesaikan situasi kekacauan birokrasi di Kabupaten Alor.
“Jalankan fungsi sebagai seorang Ketua DPRD yang sebaik-baiknya. Jangan pikir untuk bertarung 2029, tapi pikir kebutuhan rakyat saat ini,” pungkasnya.
Ketua DPRD Alor, Buche Brikmar yang dikonfirmasi awak media, menanggapi santai kritikan dari aktivis tersebut.
Menurut Buche, setiap orang punya hak menyampaikan kritik, dan ia menghormati kritik yang disampaikan tersebut.
“Tidak terlalu penting. Soal kritik ya silahkan, setiap orang punya hak untuk sampaikan persepsi masing-masing, dan kita hormati itu,” tandas Buche. (*)









Tinggalkan Balasan