Selain agenda organisasi, IAI menyiapkan sejumlah kegiatan pendukung, antara lain seminar dan workshop arsitektur berbasis material, pameran karya arsitektur dan material bangunan, perayaan HUT IAI, serta penghargaan karya arsitektur.

Rangkaian kegiatan juga akan diisi IAI Hadir-Flores Recovery Program 2026, yang berlangsung 12-18 September. Program ini mencakup donasi, asesmen lapangan di lokasi terdampak, penyusunan prinsip dan rekomendasi teknis melalui Build Back Better Workshop, hingga penyerahan hasil kepada para pemangku kepentingan.

Program tersebut melibatkan tim khusus dari Badan Pengabdian Profesi IAI bersama arsitek dari Pengurus Nasional IAI, IAI Jakarta, IAI Jawa Barat, IAI Daerah Istimewa Yogyakarta, dan IAI NTT.

Puncak rangkaian kegiatan dijadwalkan melalui Charity Tour Labuan Bajo pada 18 September. Kegiatan ini mencakup penyerahan donasi bagi korban gempa, tur Labuan Bajo, serta acara Kite for Hope berupa penerbangan layang-layang putih oleh anak-anak Labuan Bajo sebagai simbol harapan, pemulihan, dan semangat bangkit bagi Flores dan NTT.

Ia menambahkan, IAI masih terus memantau perkembangan kondisi di Labuan Bajo, termasuk situasi kebencanaan dan aktivitas gunung api yang berpotensi memengaruhi akses transportasi udara.

“Jika kondisi sampai mendekati pelaksanaan dinilai belum kondusif, IAI akan mengambil langkah berdasarkan kesepakatan bersama Pengurus Nasional dan IAI NTT,” katanya.

Luiz menegaskan, Rakernas IAI 2026 di Labuan Bajo diarahkan menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa profesi arsitek memiliki peran sosial dalam membangun kembali wilayah terdampak bencana.

“Resilience, recovery, dan humanity menjadi semangat utama. Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pihak untuk mewujudkan hunian pascabencana yang adaptif, berkelanjutan, humanis, aman, dan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat terdampak,” ujarnya. (*/ab)