Ia mengaku perkembangan usaha yang dijalankannya bersama 24 anggota kelompok lainnya berkembang cukup pesat setelah mendapat bantuan fasilitas produksi dari PLN UIP Nusra. Menurut dia, keberadaan rumah produksi dan kelengkapan peralatan kerja membuat proses produksi menjadi lebih efektif dan nyaman.

“PLN tidak hanya membangun rumah produksi untuk kelompok kami, tetapi juga memberikan bantuan seperti kompor, blender, ember, wajan berukuran besar, hingga perlengkapan meubeler untuk melengkapi rumah produksi,” sebut Evodia.

Menurut Evodia, bantuan tersebut berdampak langsung terhadap peningkatan kapasitas produksi sekaligus kualitas produk yang dihasilkan oleh kelompoknya. Aktivitas produksi kini dapat berjalan lebih maksimal dengan dukungan fasilitas yang lebih memadai.

“Perkembangannya sangat terasa. Dengan bantuan alat dan tempat produksi yang lebih baik, kami bisa bekerja lebih maksimal,” tambahnya.

Produk Sari Temulawak Ulumbu kini mulai dikenal masyarakat lebih luas dan permintaannya terus meningkat. Selain memiliki cita rasa khas, minuman herbal tersebut juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan sehingga semakin diminati konsumen. Popularitas produk herbal tersebut turut mendorong peningkatan penjualan dan pendapatan kelompok usaha.

Produk olahan Sari Temulawak Ulumbu dipasarkan dalam bentuk bubuk instan kemasan 100 gram dengan harga Rp15 ribu per bungkus. Dalam satu kali produksi, kelompok usaha tersebut mampu menghasilkan hingga 50 bungkus bubuk sari temulawak.

“Dalam satu bulan biasanya kami mendapatkan keuntungan hingga Rp3,7 juta,” jelasnya.

Seiring meningkatnya permintaan pasar, kelompok usaha itu mulai mempersiapkan langkah pengembangan usaha yang lebih berkelanjutan, terutama dalam menjaga ketersediaan bahan baku temulawak. Upaya tersebut dinilai penting agar keberlangsungan usaha tetap terjaga seiring pertumbuhan pasar yang terus berkembang.

“Ke depan kami juga ingin mengembangkan budidaya temulawak supaya bahan bakunya tetap tersedia dan usaha ini bisa terus berjalan,” jelas Evodia.