Ia menambahkan bahwa tantangan dalam pengembangan geothermal tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis pembangunan, tetapi juga menyangkut pendekatan sosial dan kemampuan menjaga ruang dialog dengan masyarakat.
“Yang terpenting adalah bagaimana ruang dialog tetap dibuka. Saya percaya kita bisa menemukan jalan bersama antara kepentingan pembangunan dan kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Dalam pemaparannya, PT PLN (Persero) UIP Nusra menjelaskan bahwa berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, wilayah Nusa Tenggara direncanakan mendapatkan pembangunan 132 proyek ketenagalistrikan dengan total kapasitas mencapai 2.182 MW. Sebanyak 47 persen atau sekitar 1.016 MW di antaranya berasal dari energi baru terbarukan.
Khusus di wilayah NTT, potensi energi baru terbarukan yang tengah dikembangkan meliputi tenaga air sebesar 48 MW, panas bumi 177 MW, tenaga surya 279 MW, dan tenaga bayu 50 MW.
PLN juga memaparkan perkembangan PLTP Ulumbu di Kabupaten Manggarai yang telah beroperasi sejak 2012. Saat ini, pengembangan dilakukan melalui pengeboran tujuh sumur baru dengan target tambahan kapasitas hingga 40 MW. Jika terealisasi, tambahan kapasitas tersebut diproyeksikan mampu menyuplai lebih dari setengah kebutuhan listrik Pulau Flores.







Tinggalkan Balasan