Ia juga menyoroti pentingnya dukungan insentif fiskal, untuk meningkatkan daya tarik investasi di kawasan FTZ. Amsakar menilai, NTT memiliki peluang besar berkembang menjadi kawasan ekonomi strategis karena berada di jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Indonesia dengan Australia dan Timor Leste.
“NTT memiliki posisi geografis yang sangat potensial karena dekat dengan Australia dan Timor Leste. Tinggal bagaimana regulasi pemerintah mampu mendukung kawasan ini agar investor tertarik masuk,” ujarnya.
Selain membahas investasi dan regulasi, dialog kedua daerah juga berkembang pada isu konektivitas laut dan pengembangan sektor kemaritiman. Amsakar menyebut Batam memiliki sekitar 135 perusahaan galangan kapal, yang dapat menjadi peluang kerja sama untuk mendukung kebutuhan transportasi laut di NTT.
Menurutnya, sektor perkapalan Batam cukup berkembang dan dapat mendukung penguatan distribusi logistik di wilayah kepulauan.
“Jika ada peluang pengoperasian kapal di NTT, tentu ini bisa menjadi ruang kerja sama yang baik. Industri galangan kapal di Batam cukup besar dan dapat mendukung kebutuhan daerah kepulauan,” katanya.



Tinggalkan Balasan