Ia mengatakan keberadaan gerai pemasaran seperti NTT Mart diharapkan dapat menjadi solusi bagi petani dan pelaku UMKM yang selama ini kesulitan menjual hasil produksinya.

“Kita tidak boleh lagi bingung menjual hasil bumi dan produk masyarakat karena sekarang mulai dibangun jalur pemasaran yang lebih jelas,” ujarnya.

Eduard juga meminta perangkat daerah terkait segera membantu pelaku UMKM mengurus legalitas produk seperti izin edar, sertifikasi halal, standar kemasan, hingga kualitas produk agar mampu bersaing di pasar modern.

“Saya tidak mau ada produk TTS ditolak karena kualitas kemasan atau izinnya belum lengkap. Semua harus dibantu sampai siap masuk pasar,” tegasnya.

Ia berharap kelompok UMKM yang telah dibentuk melalui pelatihan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi terus berkembang menjadi usaha produktif masyarakat desa.

“Kami berharap kelompok ini terus berjalan dan produknya nanti bisa dipasarkan sampai ke kota-kota,” kata Eduard.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi NTT Yohan A. Bunmo Loban menjelaskan kegiatan pelatihan berlangsung sejak 5 hingga 7 Mei 2026 dan menyasar empat kelompok UMKM di Desa Nobi-Nobi, yakni Kelompok Anggrek, Melati, Mawar, dan Sinar Kasih.

Menurut Yohan, pelatihan mencakup proses pembuatan emping jagung, pengolahan produk, pengemasan, branding, hingga pemasaran hasil usaha masyarakat.

Ia mengatakan program tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan keputusan gubernur tentang desa dan kelurahan lokasi intervensi perangkat daerah dalam rangka percepatan pencapaian sasaran pembangunan daerah tahun 2026.

“Tujuannya meningkatkan pendapatan masyarakat desa melalui sektor produktif dan memperkuat kapasitas kewirausahaan masyarakat,” katanya.

Yohan menambahkan Desa Nobi-Nobi dipilih karena menjadi salah satu daerah penghasil jagung terbesar di Kabupaten TTS sehingga dinilai potensial dikembangkan sebagai sentra produk olahan jagung.

“Jagung tidak lagi hanya dijual mentah, tetapi diolah menjadi berbagai produk yang punya nilai jual lebih tinggi. Selain emping jagung, masyarakat juga mulai mengembangkan produk olahan jagung lainnya yang nantinya dipasarkan melalui jaringan UMKM dan NTT Mart di Kupang,” pungkasnya. (ocp/ab)