“Kalau Desa Nobi-Nobi sudah punya emping jagung sebagai produk unggulan, maka itu harus terus didorong sampai orang kenal emping jagung Nobi-Nobi,” katanya.

Ia juga memperluas konsep tersebut ke sektor pendidikan melalui program One School One Product. Menurutnya, setiap SMA dan SMK di NTT nantinya didorong memiliki produk unggulan masing-masing sesuai potensi daerah.

“Sekolah-sekolah juga harus punya produk unggulan sendiri. Bisa makanan olahan, kerajinan, atau produk lain sesuai potensi daerah,” ujar Melki.

Pada kesempatan itu, Melki menjelaskan Pemprov NTT saat ini menjalankan program bantuan sekitar Rp100 juta per desa bagi desa-desa yang dinilai memiliki potensi ekonomi untuk dikembangkan. Bantuan diberikan dalam bentuk pelatihan, pendampingan, penyediaan alat produksi, hingga akses pemasaran.

Ia menyebut seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkup Pemprov NTT juga diwajibkan memiliki desa dampingan sebagai bagian dari program percepatan pembangunan desa.

“Setiap OPD kami minta punya desa dampingan. Tahap pertama ada sekitar 120 desa yang dibantu. Kita ingin perubahan ekonomi benar-benar bergerak dari desa,” katanya.