Penolakan tersebut memicu emosi dua anggota dewan yang kemudian diduga melakukan kekerasan terhadap Roni Nubatonis.
Ia juga mengkritik sikap pimpinan partai tempat kedua anggota dewan itu bernaung, yang dinilai belum menunjukkan tindakan tegas.
“Saya yakin Pak Prabowo selaku Ketua Umum Partai Gerindra tidak akan mentolerir tindakan kadernya yang melanggar hukum. Kami dorong partai bersikap tegas agar kepercayaan publik tetap terjaga,” tegas Amos.
Kuasa hukum lainnya, Leo Open, menduga ada unsur pembiaran atau konspirasi dalam insiden ini. Ia menyebut ada beberapa anggota DPRD, termasuk pimpinan dewan, yang menyaksikan kejadian namun tidak mengambil tindakan untuk melerai.
“Dinamika dalam rapat itu biasa. Tapi pemukulan itu tidak bisa dibenarkan,” katanya.
Sementara itu, Roni Natonis selaku korban dalam keterangannya mengatakan bahwa dirinya mendapat makian kasar sebelum akhirnya dilempar dengan kaleng minuman dan ditampar oleh Tome Da Costa. Setelah itu, Okto Laa disebut langsung memukulnya di bagian wajah.





Tinggalkan Balasan