Bank NTT juga menggandeng Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai untuk memperluas penggunaan CMS ke sektor pendidikan. Dana BOS dan BOSDA, yang selama ini dikelola secara manual, mulai dialihkan ke jalur digital.
“Mulai dari PAUD, SD, hingga SMP, sekolah kini bisa transfer, bayar, dan lapor keuangan langsung dari sekolah. Ini efisien dan transparan,” ujar Erlin.
Di luar sistem CMS, Bank NTT juga memperkuat jangkauan layanan keuangan lewat program Agen Be Ju Bis@—layanan keuangan berbasis komunitas desa. Agen ini ibarat “bank mini” yang hadir di tengah masyarakat. Lewat satu mesin EDC dan e-banking Bank NTT, warga bisa menarik tunai, menyetor, membayar tagihan, bahkan membuka rekening baru.
“Hingga April 2025, kami sudah punya 77 agen aktif di Manggarai. Ini bentuk nyata inklusi keuangan digital,” kata Erlin. Rinciannya: Capem Iteng (8 agen), Cancar (9 agen), Reo (15 agen), dan Cabang Ruteng (45 agen).
Bank NTT tidak sedang berjualan produk perbankan biasa. Mereka sedang membangun ekosistem ekonomi digital dari akar rumput—dari desa ke kota, dari sekolah ke rumah tangga. Di tengah era transformasi digital, Manggarai kini tak lagi terpisah dari pusat. Ia terhubung, real time, dan makin siap menyongsong masa depan tanpa uang tunai. (*/ab)







Tinggalkan Balasan