Karena itu, Paul kembali mempertanyakan pernyataan Fransisco Bessi yang menyebutnya sedang mengkhayal.

“Kalau saudara Sisco mengatakan bahwa secara personal saya menyampaikan pernyataan ke media itu sedang berkhayal, saya justru bertanya kembali ke saudara Sisco, yang sedang berkhayal atau mengantuk siapa? Saya atau dirinya?” ujar Paul Bethan.

Ia menegaskan, jika Fransisco Bessi selalu menghadiri persidangan kasus pembunuhan alm Roy Herman Bolle, maka harusnya isi keterangan saksi dan para terdakwa harus disimak dengan baik.

“Alasan kami menduga ada komunikasi saudara Sisco dengan terdakwa, karena memang ada fakta persidangan. Asumsi kami wajar adanya, karena tidak mungkin seorang kuasa hukum tidak berkomunikasi dengan klien dalam hal ini Teny Konay,” ujar Paul.

“Itu dibantah oleh saudara Sisco, bahwa dia tidak pernah berkomunikasi, cuma ditelepon tapi tidak menjawab dan dia menerangkan juga bahwa segala sesuatu yang terjadi di lokasi kejadian adalah murni tindakan atau keputusan dari keluarga Konay. Ini bisa dibilang kontradiktif dengan keterangan terdakwa yang bilang mereka berkomunikasi dengan saudara Sisco Bessi,” sambungnya.

Terkait dengan ancaman dan konskuensi hukum yang harus diterima dari pernyataannya, Paul Bethan mengaku siap menghadapi hal tersebut.

“Silahkan. Saya serahkan ke saudara Sisco karena itu hak dia sebagai warga negara atau pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan tersebut. Saya rasa tidak usah ditanggapi berlebihan. Saya kira makna kata dugaan itu bukan hal baru di dunia jurnalistik,” pungkasnya. (*)