Sekalipun berada dalam kesibukan, namun ssbagian besar warga Lembata yang ada di Kupang sudah merelakan waktunya untuk hadir dalam kegiatan tersebut.

“Dengan tema Lembata Hara Dien, untuk Lembata yang lebih baik,” kata Manuk.

Mantan Penjabat Bupati Lembata itu menyebut, masyarakat Lembata selalu merayakan agenda statemen 7 Maret. Kegiatan itu kemudian ditunda karena ingin ada kehadiran Penjabat Bupati Lembata.

Agenda lainnya yang sangat dinantikan masyarakat Lembata adalah HUT otonomi Lembata tiap tanggal 12 Oktober. Warga Lembata di Kupang, akan merayakan salah satu momentum penting itu.

Manuk menyampaikan, IKL terbentuk sejak tahun 2009. Kepemimpinan IKL kemudian diserahkan ke Abdi Keraf dengan pengurus baru yang dilantik hari ini.

Ia meminta IKL Kupang agar terus melakukan kerja-kerja keorganisasian secara konsisten. Sebagai dewan pembina, ia berharap kolaborasi bersama IKL Kupang dan Pemkab Lembata terus berlanjut.

Ketua Panitia Temu Akbar, Peringatan Statemen 7 Maret dan Pengukuhan Pengurus IKL Kupang Karel Botoor mengatakan, saat ini tidak ada lagi istilah Paji dan Demon.

“Tidak ada lagi Paji dan Demon, tapi yang ada adalah saudara dan reu,” ujar Karel Botoor.

Ia mengajak semua Ikatan Keluarga Lembata di Kupang untuk bersatu menyukseskan acara Temu Akbar IKL Kupang.

“Taan tou bersama untuk Lembata hara dien. Hari ini kita konkriykan dengan secara bahu membahu menyukseskan acara temu akbar IKL Kupang,” tandasnya.

Pantauan media, acara Temu Akbar, Peringatan Statement 7 Maret dan Pengukuhan Badan Pengurus IKL Kupang berlangsung meriah. Ada tarian dolo-dolo dan Beku asal Lebatukan yang dibawakan oleh mahasiswa dan mahasiswi asal Lembata di Kupang. 

Hadir dalam kesempatan itu, mantan Pj Bupati Lembata Marsianus Djawa, mantan Wakil Bupati Lembata dan Bupati Lembata Thomas Ola Langoday, mantan Wakil Wali Kota Kupang Daniel Hurek, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Linus Lusi, serta sejumlah tokoh dan akademisi asal Lembata. (*)