“Untuk mewujudkan mimpi itu, tidak bisa kami jalan sendiri. Hari ini, saya cukup senang karena sebagian dari mimpi kami bisa terwujud lewat kerja sama hari ini,” ujar David Selan.
Ia menjelaskan, dunia saat ini berada pada model akselerasi multikultiral skill artiifisial intelijen. Hal ini menghadirkan masalah baru tentang bagaimana manusia bisa menyerap teknologi, dan mewujudkannya dalam bentuk afeksi atau tindakan moral terhadap sesama.
“Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kemajuan teknologi. Kita berada di 4.0 dan menuju 5.0 di era sosial. Ini sangat berbahaya bagi kita jika tidak beradaptasi dengan teknologi,” ungkapnya.
Rektor UPG 1945 NTT menyebut, kemajuan teknologi juga menjadi tantangan bagi lembaga perguruan tinggi. Meski demikian, menurutnya, guru tidak bisa digantikan dengan teknologi.
“Guru tetap guru dan dosen tetap dosen. Tetapi guru dan dosen harus mampu beradaptasi dengan teknologi, sehingga nantinya kita tidak tersesat dalam menghadapi perkembangan zaman,” tegasnya.





Tinggalkan Balasan