Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Gubernur Bidang Perekonomian Dan Pembangunan Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si yang mewakili Gubernur Nusa Tenggara Timur menyampaikan bahwa Paskah Bahari merupakan Paskah yang terkait dengan ekosistem kelautan. Momen ini menurutnya mengingatkan pada sebuah peristiwa di Alkitab dalam Kitab Kejadian tentang penciptaan dunia dan segala isinya termasuk laut oleh Tuhan sang pencipta. Lebih lanjut Marius mengungkapkan bahwa perayaan Paskah Bahari di pinggir pantai bersama para nelayan dan petani harus disyukuri, karena melalui mereka tersedia kebutuhan makanan seperti ikan dan pangan lainnya.

Ada yang istimewa pada Puncak Perayaan Paskah Bahari ini, yakni terlibatnya salah satu keterwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yaitu Camat Kelapa Lima, I Wayan Gede Astawa, S.Sos. MM yang dipercaya sebagai Ketua Panitia Pelaksana. Dalam laporannya, Wayan Astawa menjelaskan bahwa setelah syukur Paskah selesai masih akan ada sejumlah program pengembangan dari GMIT Klasis Kota Kupang untuk nelayan dan petani yang akan menjadi sasaran utama. Program pengembangan dimaksud berupa pembangunan tanggul tambak dan area pemancingan, pengembangan UMKM jemaat, budidaya kerang, bantuan alat tangkap dan pemberian bantuan jarring sampah.

Menjelang puncak perayaan Paskah Bahari, panitia telah merancang sejumlah kegiatan positif seperti kegiatan peduli stunting dengan intervensi pemberian makanan tambahan selama 90 hari bagi 110 bayi usia 0 s/d 5 tahun, aksi donor darah dari 104 pendonor, penanaman 500 anakan Mangrove di lokasi pantai wisata muara abu, kerja bakti di pantai dan jalan umum kemudian Parade Umat yang mengikutsertakan 35 jemaat GMIT serta PHDI NTT dan Wanita Katolik Kota Kupang serta keluarga Kawanua Manado/Minahasa, dengan total jumlah peserta seluruhnya sebanyak 875 orang dari 40 kontingen. (PKP_rdp)