Setibanya di sana, Nono dan keluarganya menyambut kehadiran tim Bank NTT Oelamasi walaupun di tengah padatnya jadwal Nono memenuhi undangan dan persiapan mengikuti olimpiade Matematika tingkat Asean nanti.

Ada yang luar biasa dari seorang Nono, yakni ketika anak-anak lain seusianya memilih sibuk bermain gadget dan lato-lato, tidak bagi dia. Nono bisa memanfaatkan perangkat dan media tersebut untuk berprestasi.

Bahkan dia bisa mengatur aktivitasnya tiap hari sebagai pelajar dan anak-anak dengan. Misalnya ada waktunya untuk bermain bola, bercengkerama dengan teman-teman sebayanya, dan ada juga waktu baginya untuk belajar. Ibunya, Nuryati Seran, mengisahkan banyak dari keseharian anaknya ini.

“Pentingnya memahami psikologis pendidikan saat ini agar dapat memupuk kemampuan dasar anak sejak dini dengan menggunakan bahasa ibu dan metode yang menyenangkan sehingga anak lebih cepat paham,” ujar sang ibu, Nurhayati Seran, arsitek di balik keberhasilan Nono.

Untuk diketahui bahwa Nono adalah pemenang Juara Satu Dunia Abacus Brain Gym yang mengalahkan 7000 peserta. Dan dalam sebuah pertemuan dengan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat di ruang kerjanya, VBL justru menginginkan agar Nono melanjutkan pendidikannya ke Universitas Massachusetts Institute of Technology (MIT) di kota Cambridge Boston, Amerika Serikat. MIT ini sebuah universitas teknologi terbaik di dunia.