Kemoceng yang dijual, kata dia, dibuat oleh tunanetra lain yang tergabung dalam komunitas “Kelompok Tunanetra”, kemudian ia ditugaskan untuk menjualnya. “Jadi ada yang buat, lalu saya bagian untuk menjual,” ungkapnya.
Dari Kemoceng yang dijual, Samuel hanya mengantongi uang Rp200.000 per bulan. Kendati begitu, penghasilan itu dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya Yudit.
“Penghasilan ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami,” terangnya.
Sebagian besar tunanetra dianggap tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi bekerja mencari uang. Namun Samuel membuktikan bahwa dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, mereka mampu bekerja dan hidup mandiri.
“Sebagai tunanetra, kami tidak mau menyerah dengan keadaan seperti ini. Jadi kami ambil Kemoceng ini sebagai salah satu pekerjaan kami,” tandasnya.
Selain Samuel, istrinya Yudit turut membantunya dengan berjualan kerupuk di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Yudit juga memiliki keterbatasan dalam penglihatan (tunanetra), namun kondisi itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk bekerja mencari rezeki. (Ratna).





Tinggalkan Balasan