Bahkan dia mencontohkan pada sektor peternakan, pengembangan ternak kecil dan besar untuk kebutuhan pangsa pasar ternak di DKI bisa dipasok dari NTT. “Bicara industrialisasi, DKI yang memiliki kapasitas dan modernisasi pengolahan berbagai komoditi, maka akan terbuka peluang untuk investasi dari Jakarta masuk ke NTT untuk produksi dari NTT keluar dalam bentuk produk yang sudah jadi, bukan lagi barang-barang mentah. Dampaknya pada pertumbuhan nilai ekonomi dengan nilai unggul dan daya tumbuh tentu akan terungkit,” jelasnya.

Ditambahkan, Bank DKI pada tahun 2023 akan menjadi bank Initial Public Offering (IPO) atau Bank yang bisa melantai di bursa. “Kita di Bank NTT akan melangkah ke sana dan kita belajar di Bank DKI untuk nanti Bank NTT pada tahun 2025-2026 akan menjadi bank IPO. Apalagi NTT punya komoditi unggul di NTT seperti Kopi, Vanili, Kakao, Bambu, Perikanan, Rumput Laut dan Peternakan, itu kapasitasanya harus ditingkatkan. Dan intervensi mereka dalam budidaya, teknologi dan modal itu akan memberikan daya pacu yang cepat,” tegasnya.

Tidak hanya itu, dengan kerja sama KUB maka terjadi saling tukar informasi soal produk perbankan dari masing-masing pihak. “Jika ada produk perbankan kita yang sudah maju, bisa direplikasi oleh Bank DKI, demikian juga sebaliknya,” pungkasnya. (Humas Bank NTT)