Tak cukup di situ, juri diajak masuk ke kebun. Dan ternyata luar biasa. Di kebun yang luas itu, seluruhnya dibentuk bedeng-bedeng berdiameter 1 X 4-5 meter. Ada bedeng yang sudah kosong karena baru saja dipanen, sedangkan ada yang masih dipenuhi sayuran maupun cabe.

Belum lagi tanaman labu yang dibentuk melata pada sebuah terowongan bambu, dengan buah labu berukuran besar yang berjuntai di tengah. Tentu ini menambah sensasi pengunjung yang menyusuri lorong, yang diibaratkan sebagai etalase untuk memamerkan beraneka bentuk buah labu itu.
Dalam sebuah diskusi di tengah kebun itulah, Juan membeber buah dari hasil kerja kerasnya itu. “Kami baru saja panen semangka pada bulan Oktober, dan saat itu kami undang Pak Wakil Bupati TTU. Semangka kalau sekali panen kami dapat sekitar Rp30 juta, belum lagi sayur yang juga keuntungannya sangat bagus,” tegas Juan.

Menurutnya, sebagai petani dia harus bisa membaca peluang di pasar, sehingga ketika petani lain ramai-ramai menanam satu jenis sayur, dia tidak akan menaman jenis yang sama. Dia baru akan menanamnya ketika merek hampir panen, sehingga ketika stok di pasar habis, dia akan melempar sayur olahannya di pasar. Begitu pula dengan cabe. “Itu yang saya bilang bahwa petani harus bisa membaca peluang pasar. Dari sinilah dia akan untung,” tegasnya ringan. Dia sudah mencobanya dan berhasil.