Dia menyebut, hasil panen sebanyak 4,5 ton sudah memberikan manfaat yang sangat besar bagi petani. Jika dihitung, maka penjualan 4,5 ton jagung menghasilkan uang sebesar Rp12 Juta, dengan harga penjualan paling rendah yaitu Rp3000 per kilogram.

Dari total penghasilan, kata Alex, petani bisa mengembalikan dana pinjaman sebesar Rp10 Juta. Sisanya Rp2 Juta bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, juga untuk pengembangan lahan TJPS.

“Untuk musim tanam Oktober-Maret, kita targetkan 6000 hektar. Sebagai bank daerah, kita siap untuk membiayai itu,” tuturnya.

Semetara Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Lecky Koli mengatakan, hasil jagung yang dipanen adalah jenis Hibrida Bisi 18 yang ditanam secara simbolis oleh Gubernur Viktor pada 100 hari lalu di atas lahan seluas 26 hektar.

Ia menjelaskan, program TJPS ini sudah menyebar di 21 Kabupaten selain Kota  Kupang, dan pada musim kemarau ini pihaknya sudah menanam 37 ribu hektar.

Menurut Lecky, program TJPS tersebut telah menghasilkan sekitar 110 ribu ton hingga 149 ton. Bahkan semuanya telah dibawa ke daerah Jawa untuk mendukung pangan ternak di sana dan untuk NTT sendiri.