Ia menjelaskan, daya saing tenun NTT saat ini sudah mendunia, karena memiliki karakteristik khusus dan nilai yang berbeda serta unggul secara kualitas.
Namun dengan perkembangan jaman di era milenial, perlu dipikirkan untuk mendesain dan menghasilkan tenun yang sesuai dengan segmentasi pasar demi keberlangsungan usaha.
“Tenun yang bisa menghidupi rumah tangga, memberikan lapangan pekerjaan atau menjadi bisnis tertentu, harus menyesuaikan dengan dunia dan tuntutan konsumen,” tegasnya.
Sosok yang akrab disapa Alex Riwu Kaho ini menegaskan, ke depan motif tenun NTT wajib didorong untuk mendapatkan hak paten atau indikasi geografis, untuk memitigasi duplikasi dari pihak luar.
Bank NTT sebagai salah satu mitra UMKM yang bergerak di bidang tenun ikat, selalu mendorong para pelaku usaha untuk masuk ke dunia pasar.
Salah satunya adalah menghadiri berbagai event festival tenun baik yang diselenggarakan di level daerah, provinsi, nasional maupun internasional.
Dirut Bank NTT menambahkan, tantangan yang dihadapi dunia usaha tenun ikat dan para pelaku UMKM adalah daya tahan serta kurangnya edukasi keuangan tentang cara mendapatkan akses modal.





Tinggalkan Balasan