Terlepas dari aneka penghargaan yang disabet Bank NTT dan penerapan sistem reward dan punisment yang diterapkan manajemen Bank NTT; harus diakui ada optimisme dalam memandang dan meyakini bahwa Bank NTT ke depan akan lebih baik dan bersaing dengan institusi finansial lainnya yang ada di Indonesia. Serentak dengan itu, publik pun berharap agar Bank NTT membuka ruang akses yang lebih luas kepada seluruh lapisan masyarakat untuk memanfaatkan Bank NTT guna perbaikan tingkat kesejahteraan dengan memberikan layanan yang excellent serta aneka produk yang inovatif.
Harapan inilah yang seringkali didengungkan oleh Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL). Bahkan Gubernur VBL “menantang” manajemen Bank NTT untuk menjadi Bank Devisa.
Bank devisa merupakan bank yang dapat melakukan kegiatan jual-beli secara keseluruhan dengan menggunakan mata uang asing hingga ke luar negeri. Pelayanan bank devisa melingkupi pembayaran ke luar negeri dan jual-beli valuta asing. Bank devisa juga dapat mengeluarkan surat kredit, cek perjalanan, inkaso dan tabungan dalam pasar valuta asing. Kinerja bank devisa dinilai berdasarkan hasil analisa rasio laporan keuangan yang meliputi permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas dan kepatuhan.
Pada penerapannya, bank devisa dapat menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk valuta asing. Namun, ada banyak sumber dana lain yang bisa menjadi pemasukan devisa. Sumber dana bank devisa meliputi: transaksi ekspor yakni ekspor barang dan jasa yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta dengan menggunakan jasa bank devisa.
Selain itu, penanaman modal luar negeri; pendapatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI); pinjaman luar negeri; pariwisata dan pembukaan rekening valas. Artinya, dana yang dihimpun dari nasabah perorangan juga dapat menambah dana bank devisa. Bank bisa memberikan bunga rekening valas yang kompetitif supaya orang tertarik untuk membuka rekening valas.
Di titik ini usaha dan kerja keras untuk menjadikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai salah satu provinsi literasi di Indonesia harus menjadi perhatian sekaligus gerakan bersama seluruh elemen yakni: pemerintah, swasta dan masyarakat. Karena literasi bukan sekadar wacana atau ide besar semata, melainkan harus disertai aksi nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak.







Tinggalkan Balasan